This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 02 Juni 2013

PIUTANG


457
BAB 4
PIUTANG
A. Pengertian Piutang
Piutang adalah jumlah
klaim atau tagihan kepada
pihak lain dalam bentuk
uang.
Piutang adalah jumlah klaim atau tagihan
kepada pihak lain dalam bentuk uang. Tagihan ini
bisa dilakukan terhadap individu, perusahaan atau
organisasi lainnya. Contoh transaksi transaksi
yang menimbulkan piutang antara lain adalah
penjualan barang
atau jasa secara kredit, pemberian pinjaman kepada nasabah atau karyawan,
memberi uang muka pada anak perusahaan.
B. Klasifikasi Piutang
Piutang dapat diklasifikasikan berdasarkan ada tidaknya dukungan
perjanjian secara tertulis dan berdasarkan hubungannya dengan aktivitas usaha
utama perusahaan.
Berdasarkan ada tidaknya dukungan perjanjian
tertulis, piutang diklasifikasikan menjadi dua
yaitu piutang usaha (account receivable) dan
piutang wesel (notes receivable). Piutang usaha
yaitu piutang yang timbul dari aktifitas utama
perusahaan yang tidak didukung dengan perjanji-
Piutang usaha (account
receivable) adalah piutang
yang timbul dari penjualan
barang atau jasa yang
dihasilkan perusahaan
secara kredit.
an tertulis untuk penyelesaiannya dan piutang wesel (notes receivable) yaitu
piutang yang timbul dari aktifitas utama perusahaan yang didukung dengan
perjanjian tertulis untuk penyelesaiannya.
Piutang bukan usaha (non
account receivable) adalah
piutang yang timbul bukan
dari penjualan barang atau
jasa yang dihasilkan
perusahaan.
Berdasarkan hubungannya dengan aktivitas
usaha utama perusahaan piutang diklasifikasikan
menjadi:
1. Piutang usaha (account receivable)
adalah piutang yang timbul
dari penjualan barang atau jasa yang
dihasilkan perusahaan yang dilakukan secara kredit. Piutang
458
yang terjadi sebagai akibat penjualan barang dan jasa utama perusahaan
ini berjangka pendek sehingga dikelompokkan ke dalam aset lancar.
2. Piutang bukan usaha (non account receivable) adalah piutang yang timbul
bukan dari penjualan barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan. Piutang
bukan usaha ini bersifat macam-macam tergantung jangka waktu
penagihannya. Ada yang dikelompokkan sebagai aset lancar sperti piutang
bunga, persekot piutang dividen dan lain-lain. namun juga ada yang dapat
dikelompokkan sebagai aset tidak lancar misalnya adalah piutang wesel
yang memiliki jangka waktu penagihannya lebih dari satu periode akuntansi.
Piutang bukan usaha antara lain:
a. Piutang dividen
b. Persekot asuransi
c. Piutang bunga
d. Piutang pegawai
e. Piutang pesanan pembelian saham
f. Piutang pendapatan sewa
g. Tagihan kepada pelanggan untuk pengembalian tempat barang misal
botol, drum, dan lain-lain
C. Pengakuan Piutang Usaha (Account Receivable)
Piutang dicatat bersamaan dengan pencatatan pendapatan yang diperoleh
perusahaan. Misalnya PT Rajawali adalah perusahaan dagang yang menjual
barang barang elektronik. Pada tanggal 4 Maret 2007 menjual 5 buah televisi
TOSHIBA 21” @ Rp. 12.500.000,- yang berharga pokok Rp. 11.500.000,- kepada
UD Cahaya, dengan syarat 2/10,n/30. Tiga hari setelah barang dikirimkan,
UD Cahaya mengembalikan sebuah televisi tersebut karena rusak. Sedangkan
UD Cahaya melunasi utangnya kepada PT Rajawali pada tanggal 12 Maret.
Ayat jurnal untuk mencatat transaksi di atas yang harus dibuat oleh PT. Rajawali
adalah:
Piutang wesel (notes
receivable) yaitu piutang
yang didukung dengan
perjanjian tertulis.
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007 Piutang Usaha UD. Cahaya Rp 12.500.000
4 Maret Penjualan Rp 12.500.000
Harga Pokok Penjualan Rp 11.500.000
Persediaan TV TOSHIBA 21” Rp 11.500.000
7 Maret Retur dan Potongan Penjualan Rp 2.500.000
459
D. Penilaian Piutang Usaha
Piutang akan dicantumkan dalam neraca sebesar jumlah yang akan dapat
direalisasikan (nilai realisasi/penyelesaian/realizable/settlement value) yaitu
jumlah yang diharapkan dapat ditagih. Jumlah yang diharapkan dapat ditagih
dihitung dengan cara mengurangi jumlah piutang yang ada dengan taksiran
piutang yang tidak dapat ditagih. Misalnya PT Cendekia pada tanggal
31 Desember 2006 mempunyai saldo piutang usaha Rp. 100.000.000,-. Dari
piutang tersebut yang diperkirakan tidak dapat tertagih sebesar Rp. 15.000.000,-
dikarenakan kondisi pelanggannya mengalami kebangkrutan. Jadi jumlah yang
diharapkan diterima adalah Rp. 85.000.000,- (Rp. 100.000.000,- dikurangi
Rp. 15.000.000,-).
Jumlah piutang yang tidak dapat tertagih diakui
sebagai kerugian piutang. Kerugian piutang ini
dilaporkan dalam laporan laba rugi periode berjalan
sebagai beban lain-lain. Besarnya kerugian
piutang dapat ditentukan dengan
menggunakan metode penghapusan langsung atau metode cadangan.
1. Metode Penghapusan Langsung
Jumlah kerugian piutang atau piutang yang dihapuskan dapat diakui
dan dilaporkan jika terdapat bukti yang meyakinkan bahwa pelanggan benarbenar
tidak dapat melunasinya. Sehingga jumlah piutang yang dilaporkan
dalam neraca adalah sebesar nilai bruto bukan nilai yang diharapkan dapat
diterima.
Contoh, misalnya PT Rajawali pada tanggal 31 Desember menerima
memo berupa copy surat keputusan dari pengadilan bahwa pelanggan
tersebut dinyatakan pailit, maka pada tanggal tersebut PT Rajawali akan
menghapus piutangnya senilai Rp. 15.000.000,-.
Piutang Usaha UD Cahaya Rp 2.500.000
Harga Pokok Penjualan Rp 2.300.000
Persediaan TV . TOSHIBA 21” Rp 2.300.000
12 Maret Kas Rp 9.800.000
Potongan Tunai Penjualan Rp 200.000
Piutang Usaha UD Cahaya Rp 10.000.000
Nilai realisasi/
penyelesaian/realizable/
settlement value) yaitu
jumlah yang diharapkan
dapat ditagih.
460
Ayat jurnal untuk mencatat kerugian piutang pada tanggal 31 Desember
2006 adalah:
2. Metode Cadangan
Jika menggunakan metode cadangan, perusahaan setiap akhir tahun
harus menentukan berapa taksiran besarnya piutang tak tertagih yang akan
diakui dan dilaporkan sebagai kerugian piutang pada periode berjalan.
Sehingga jumlah piutang yang dilaporkan dalam neraca adalah sebesar
jumlah yang diharapkan dapat diterima. Ada dua dasar untuk menentukan
jumlah kerugian piutang sebagaimana dalam ilustrasi 4.1.
Ilustrasi 4.1: Metode Cadangan Kerugian Piutang
a. Jumlah Penjualan
Kerugian piutang ditentukan dengan cara mengalikan persentase
tertentu dengan jumlah penjualan yang diakui pada periode tersebut
khususnya penjualan kredit. Dasar ini digunakan karena yang menimbulkan
piutang adalah penjualan kredit. Tetapi jika sulit memisahkan berapa
jumlah penjualan tunai dan berapa jumlah penjualan kredit maka yang
digunakan adalah jumlah penjualan keseluruhan periode tersebut.
Contoh, misalnya penjualan yang diperoleh oleh PT Setia
Jaya pada tahun 2006 adalah Rp. 300.000.000,- dimana
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2006
Desember 31 Kerugian Piutang Usaha Rp 15.000.000
Piutang usaha Rp 15.000.000
Persentase dari Penjualan Persentase dari Penjualan
Penandingan Nilai Realisasi Kerja
Penjualan
Penghapusan
Piutang
Piutang
Dagang
Cadangan
Kerugian
piutang
➤ ➤ ➤ ➤
Didasarkan atas Laba-Rugi Didasarkan atas Neraca
461
seperempatnya adalah penjualan tunai. Perusahaan menetapkan bahwa
persentase piutang tak tertagih pada tahun 2006 adalah 10%. Maka
besarnya kerugian piutang dihitung sebagai berikut:
Penjualan tahun 2006 Rp 300 juta
Penjualan tunai tahun 2006 (1/4 x 300 juta) Rp 75 juta
––––––––––
Penjualan kredit tahun 2006 Rp 225 juta
Piutang tak tertagih: 10% × Rp225 juta = Rp. 22,5 juta
Ayat jurnal untuk mencatat besarnya kerugian piutang pada tanggal
31 Desember 2006 adalah:
1. Jika pada periode tersebut baru menerapkan metode cadangan,
maka jurnalnya sebagai berikut:
2. Jika perusahaan telah menggunakan metode cadangan dan
misalkan saldo cadangan kerugian piutang pada periode tersebut
masih sebesar Rp. 5 juta.
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2006
31 Des Kerugian Piutang Usaha Rp 22.500.000
Cadangan Kerugian Piutang Rp 22.500.000
3. Terdapat bukti yang jelas jika pelanggan benar benar tidak dapat
melunasi piutangnya.
Misalkan pada tanggal 5 Januari 2007 terdapat bukti surat keputusan
pengadilan menyatakan bahwa salah satu pelanggan dinyatakan
pailit yang berpiutang sebesar Rp. 10.000.000,-, sehingga piutangnya
benar-benar tidak dapat ditagih dan harus dihapuskan maka ayat
jurnal untuk mencatat kejadian ini adalah:
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2006
31 Des Kerugian Piutang Rp 17.500.000
Cadangan Kerugian Piutang Rp 17.500.000
(Rp22.500.000,00–Rp5.000.000,00
= Rp17.500.000,00)
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007
5 Jan Cadangan Kerugian Piutang Usaha Rp 10.000.000
Piutang Usaha Rp 10.000.000
462
b. Saldo Piutang
Perhitungan kerugian piutang atas dasar saldo piutang akhir periode
dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu:
1. Jumlah cadangan dinaikkan sampai persentase tertentu dari saldo
piutang
2. Cadangan ditambah persentase tertentu dari saldo piutang
3. Jumlah cadangan dinaikkan sampai jumlah yang dihitung dengan
menganalisis umur piutang
Untuk memberikan ilustrasi penggunaan ketiga metode di atas,
misalnya PT Anggara Permana per 31 Desember 2006 mempunyai saldo
piutang sebesar Rp. 15.602.900,- dengan rincian sebagaimana tertera
di dalam tabel daftar saldo piutang dibawah ini. Sedangkan saldo
cadangan kerugian piutang sebesar Rp. 250.000,-. Untuk tahun 2006
perusahaan menetapkan persentase kerugian piutang sebesar 2% dari
saldo piutang.
Dari data di atas perhitungan besarnya kerugian piutang dan
pencatatannya dilakukan sebagai berikut:
1) Jumlah cadangan dinaikkan sampai persentase tertentu dari saldo
piutang.
PT Anggara Permana
Daftar Saldo Piutang per
31 Desember 2006
(dalam rupiah)
1. UD. Panca 457.600 457.600
2. Ny. Haris 1.244.500 1.000.000 244.500
3. Toko Abadi 760.000 760.000
4. Tn. Andika 987.500 987.500
5. Tn. Heri 1.567.800 567.000 1.000.800
6. Toko Siantar 275.000 275.000
7. Nn. Fitri 2.450.000 1.400.000 565.000 485.000
8. Nn. Permana 888.000 888.000
9. UD. Afifah 6.750.000 5.000.000 600.000 1.150.000
10. CV. Tirta Tiara 222.500 222.500
Jumlah 15.602.900 8.424.600 809.500 2.832.500 2.150.800 888.000 497.500
No . Pelanggan Saldo
Belum
Jatuh
Tempo
Menunggak
1-30 hari 31-60
hari
61-90
hari
91-120
hari
lebih dari
120 hari
463
Besarnya kerugian piutang adalah persentase kerugian dikalikan
saldo piutang yaitu 2% × Rp. 15.602.900,- = Rp. 312.058,-. Karena
saldo cadangan kerugian piutang masih sebesar Rp. 250.000,- maka
jumlah kerugian piutang tahun tersebut yang ditambahkan ke akun
cadangan kerugian piutang adalah Rp. 312.058,- – Rp. 250.000,- =
Rp. 62.058,-.
Sedangkan ayat jurnal untuk mencatat kerugian piutang dan
cadangan kerugian piutang pada tanggal 31 Desember 2006 adalah:
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2006
31 Des Kerugian Piutang Usaha Rp 62.058
Cadangan Kerugian Piutang Usaha Rp 62.058
2) Cadangan ditambah persentase tertentu dari saldo piutang.
Jumlah kerugian piutang yang diakui pada tanggal 31 Desember
2006 adalah hasil kali persentase kerugian dengan saldo piutang
ditambah dengan saldo cadangan kerugian piutang yang masih ada
pada tanggal tersebut.
Perhitungannya adalah sebagai berikut:
Persentase kerugian dikalikan
saldo piutang (2% × Rp. 15.602.900) Rp 312.058
Ditambah
Saldo cadangan kerugian
piutang yang ada Rp 250.000
––––––––––
Jumlah kerugian piutang Rp 562.058
Sedangkan ayat jurnal untuk mencatat kerugian piutang dan
cadangan kerugian piutang pada tanggal 31 Desember 2006 adalah:
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2006
31 Des Kerugian Piutang Usaha Rp 312.058
Cadangan Kerugian Piutang Usaha Rp 312.058
Dengan ayat jurnal di atas maka saldo cadangan kerugian
piutang pada tanggal 31 Desember menjadi Rp. 562.058,-.
464
3) Jumlah cadangan dinaikkan sampai jumlah yang dihitung dengan
menganalisis umur piutang
Berdasarkan daftar piutang yang dimiliki PT Anggara Permana
pada tanggal 31 Desember 2006 dimana piutangnya sudah
dikelompokkan menjadi dua golongan utama yaitu yang belum jatuh
tempo dan yang menunggak. Jika PT Anggara Permana mempunyai
kebijakan untuk menetapkan besarnya kerugian untuk masingmasing
golongan piutang sebagai berikut:
Saldo Persentase
Kerugian Piutang
Taksiran Kerugian
Piutang
Belum Jatuh Tempo 8.424.600 0,25 21.061,5
Menunggak 1-30 hari 809.500 0,75 6.071,25
Menunggak 31-60 hari 2.832.500 5,00 141.625
Menunggak 61-90 hari 2.150.800 10,00 215080
Menunggak 91-120 hari 888.000 20,00 177.600
Menunggak > 120 hari 497.500 64,00 318.400
Jumlah 15.602.900 879.837,75
Kelompok Umur Piutang
Berdasarkan perhitungan pada tabel di atas besarnya kerugian
piutang adalah Rp. 879.837,75. Karena saldo cadangan kerugian
piutang yang masih ada sampai dengan tanggal 31 Desember 2006
adalah sebesar Rp. 250.000,- maka akun cadangan kerugian piutang
ini akan ditambah sebesar Rp. 879.837.74 – Rp. 250.000 =
Rp. 629.837,75.
Sedangkan ayat jurnal untuk mencatat kerugian piutang dan
cadangan kerugian piutang pada tanggal 31 Desember 2006 adalah:
E. Penagihan Piutang yang Telah Dihapuskan
Seringkali bahwa piutang yang telah dihapus dilunasi
kembali oleh pelanggan. Jika perusahaan menggunakan metode
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2006
31 Des Kerugian Piutang Rp 629.837,75
Cadangan Kerugian Piutang Rp 629.837,75
465
cadangan, maka pada saat menerima pelunasan akan dicatat
sebagai berikut:
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
Kas XXX
Cadangan Kerugian Piutang XXX
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
Piutang XXX
Cadangan Kerugian Piutang XXX
Namun jika setelah dihapus pelanggan memberikan kesanggupan untuk
melunasi dan selanjutnya membayarnya maka pencatatannya akan dilakukan
sebagai berikut:
1. Pada saat menerima janji/memo kesanggupan untuk melunasi piutang.
2. Pada saat menerima uangnya.
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
Kas XXX
Piutang XXX
F. Disposisi Piutang
Piutang merupakan salah satu jenis aset lancar perusahaan setelah kas.
Piutang dapat dikonversi menjadi kas pada saat jatuh tempo. Seringkali
perusahaan dihadapkan pada masalah lamanya menunggu jatuh tempo piutang
padahal perusahaan membutuhkan kas dengan segera. Untuk itu manajemen
seringkali membuat kebijakan untuk mempercepat konversi piutang menjadi
kas dengan cara mendisposisi piutang tersebut. Disposisi piutang dapat
dilakukan dengan menggadaikan piutang atau menjual piutang kepada pihak
lain.
1. Penggadaian Piutang
Perusahaan menggadaikan piutang
untuk mendapatkan pinjaman dari lembagalembaga
keuangan lain seperti bank atau
lembaga pembiayaan. Lembaga keuangan
ini dapat memberikan pinjaman jika perusahaan
Penggadaian piutang
adalah menjaminkan
piutang kepada lembaga
keuangan untuk
mendapatkan pinjaman.
466
menjaminkan piutang piutang yang dimilikinya. Penagihan piutang tetap
dilakukan oleh perusahaan yang bersangkutan. Hasil penagihan digunakan
untuk melunasi pinjaman kepada lembaga keuangan tersebut. Pelanggan
perusahaan dapat diberitahu atau tidak diberitahu jika piutangnya
digadaikan.
Contoh, misalnya PT Nirwana Abadi pada tanggal 1 Maret 2007
meminjam uang kepada lembaga keuangan PT Bahagia Finance sebesar
Rp. 100.000.000,- dengan jaminan piutang dagang yang dimilikinya senilai
Rp. 125.000.000,-. Beban bunga 12% per tahun, bunga dibayar per bulan
pada saat mengangsur pokok pinjaman. Sedangkan beban administrasi 2%.
Setiap bulan PT Nirwana Abadi diwajibkan mengangsur pinjamannya
sebesar piutang yang dapat ditagih pada bulan tersebut. Penagihan piutang
tetap dilakukan oleh PT Nirwana Abadi. Pelunasan piutang yang diterima
dalam bulan tertentu dicatat pada akhir bulan yang bersangkutan, sedangkan
pembayaran pokok pinjaman dilakukan pada awal bulan berikutnya. PT
Nirwana Abadi menerima pelunasan piutangnya pada bulan April sebesar
Rp. 50.000.000,-, bulan Mei sebesar Rp. 25.000.000,-, dan Juni
Rp. 35.000.000,-. Pada tanggal 1 Juli PT Nirwana Abadi dapat melunasi
seluruh pinjamannya kepada PT. Bahagia Finance.
Berikut adalah pencatatan yang dilakukan oleh PT Nirwana Abadi.
01 Maret 2007 Menerima pinjaman dari PT Bahagia Finance sebesar
Rp. 100.000.000,- dan membayar beban administrasi 2%
dengan jaminan piutang senilai Rp. 125.000.000,-.
31 Maret 2007 Menerima pelunasan piutang dari pelanggannya sebesar
Rp. 50.000.000,-.
01 April 2007 Membayar angsuran pertama dan bunga.
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007
1 Maret Kas Rp 98.000.000
Beban adminsitrasi pinjaman Rp 2.000.000
Utang PT Bahagia Finance Rp 100.000.000
* 2% × Rp100 juta = Rp2 juta,
** Rp100 juta – Rp2 juta = Rp98 juta
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007
31 Maret Kas Rp 50.000.000
Piutang Rp 50.000.000
467
30 Mei 2007 Menerima pelunasan piutang dari pelanggannya sebesar
Rp. 25.000.000,-.
01 Juni 2007 Membayar angsuran kedua dan bunga.
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007 Kas Rp 25.000.000
30 Mei Piutang Rp 25.000.000
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007 Utang PT. ANDARA FINANCE Rp 25.000.000
1 Juni Beban Bunga Rp 250.000
Kas Rp 25.250.000
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007 Utang PT Bahagia Finance Rp 50.000.000
1 April Beban Bunga Rp 500.000
Kas Rp 50.500.000
30 Juni 2007 Menerima pelunasan piutang dari pelanggannya sebesar
Rp. 35.000.000,-.
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007 Kas Rp 35.000.000
30 Juni Piutang Rp 35.000.000
01 Juli 2007 Melunasi sisa pinjaman kepada PT Bahagia Finance.
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007
1 Juli Utang PT Bahagia Finance Rp 25.000.000
Beban Bunga Rp 250.000
Kas Rp 25.250.000
1 Juli Piutang Rp 15.000.000
Piutang yang dijaminkan Rp 15.000.000
(Menghapus akun piutang yang
dijaminkan)
Jadi pada bulan juli 2007 pinjaman kepada PT Bahgia Finance lunas,
sedangkan saldo piutang perusahaan adalah Rp. 15.000.000,-.
2. Penjualan/Pemfaktoran/Anjak Piutang
Untuk memenuhi kebutuhan kas yang segera disamping
dilakukan dengan cara menggadaikan piutang perusahaan dapat
menjual piutang tersebut kepada lembaga-lembaga keuangan.
Lembaga keuangan yang membeli piutang perusahaan akan
sepenuhnya menerima pelunasan maupun risiko tidak tertagihnya
468
piutang tersebut. Pelanggan perusahaan yang piutangnya dijual akan
mendapatkan pemberitahuan bahwa piutangnya telah dijual kepada
lembaga keuangan sehingga pelanggan mempunyai kewajiban
melunasinya kepada lembaga tersebut.
Berikut contoh penjualan piutang. Misalnya PT
Airlangga Perkasa pada tanggal 5 Januari 2007
menjual piutangnya senilai Rp. 400.000.000,-
kepada PT Vidya Finance. Dalam transaksi itu, PT
Vidya Finance membebani beban admnisitrasi Rp.
5% dan mewajibkan untuk menahan saldo
sebesar 4% sebagai jaminan sampai semua
piutangnya PT Airlangga Perkasa dapat tertagih.
Penjualan atau
pemfaktoran piutang
adalah penjualan piutang
yang dimiliki oleh
perusahaan kepada
lembaga keuangan,
dimana lembaga keuangan
yang akan menanggung
semua resiko yang terkait
dengan pelunasan piutang
tersebut.
Pencatatan yang dilakukan oleh PT Airlangga Perkasa adalah sebagai
berikut:
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007
5 Januari Kas Rp 364.000.000
Piutang PT. Sinar Finance Rp 16.000.000
Kerugian Penjualan Piutang Rp 20.000.000
Piutang Rp 400.000.000
Keterangan:
*) Kerugian penjualan piutang adalah sebesar beban keuangan yang
ditetapkan oleh lembaga keuangan yang membeli piutang tersebut yaitu
5% kali Rp. 400.000.000,- sama dengan Rp. 20.000.000,-.
**) Karena lembaga keuangan menahan saldo mati sebesar Rp. 4% dari
Rp. 400.000.000,- sebagai jaminan transaksi penjualan piutang maka
bagi PT. Airlangga Perkasa saldo yang ditahan di PT Vidya Finance
diakui sebagai piutang kepada lembaga tersebut.
G. Piutang Wesel (Wesel Tagih)
Wesel adalah janji tertulis yang tidak bersyarat dari satu pihak kepada pihak
lain untuk membayar sejumlah uang tertentu pada tanggal tertentu di masa yang
akan datang. Wesel dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Wesel berbunga adalah wesel yang mempunyai tingkat bunga yang
ditetapkan.
469
2. Wesel tanpa bunga adalah wesel yang bunganya sudah termasuk di dalam
jumlah nominalnya sehingga bunga tidak dinyatakan secara eksplisit.
Wesel-wesel ini ada yang dapat dipindahtangankan atau dijual atau
didiskonto kepada pihak lain seperti bank, tetapi ada juga yang tidak bisa
dipindahtangankan. Pendiskontoan wesel akan dilakukan sebelum jatuh tempo.
Seperti dalam hal piutang usaha, maka
piutang wesel juga bisa dibedakan menjadi wesel
dagang, wesel dari pegawai dan lain-lain. Pada
umumnya piutang wesel dapat dikelompokkan
menjadi 2 macam, yaitu:
Wesel adalah janji tertulis
yang tidak bersyarat dari
satu pihak kepada pihak
lain untuk membayar
sejumlah uang tertentu
pada tanggal tertentu di
masa yang akan datang.
1. Piutang wesel tidak berbunga
2. Piutang wesel berbunga
Piutang wesel berbunga adalah piutang wesel dimana debitor akan dikenai
sejumlah bunga tertentu seperti yang tertera dalam lembar weselnya selama
umur wesel. Sedangkan piutang wesel tidak berbunga adalah piutang wesel
yang tidak bersyarat pembayaran bunga, yang berarti debitor tidak dikenai bunga
wesel.
H. Pencatatan Piutang Wesel (Wesel Tagih)
Wesel tagih akan dicatat sebesar nilai sekarang (present value) dari arus
kas masa depan yang diharapkan diterima. Nilai sekarang wesel jangka pendek
umumnya tidak berbeda dengan nilai jatuh temponya (jika ada selisih jumlahnya
tidak material), sehingga untuk wesel jangka pendek umumnya akan dicatat
sebesar nilai nominalnya.
Wesel tagih jangka panjang dinilai sekarang atau lebih awal dengan tingkat
bunga pasar yang berlaku pada saat wesel diterbitkan. Jika tingkat bunga yang
ditetapkan untuk wesel tagih sama dengan tingkat bunga pasar, maka wesel
tersebut terjual sebesar nilai nominalnya. Tetapi jika tingkat bunga wesel yang
ditetapkan tidak sama dengan tingkat bunga pasar maka wesel tagih tersebut
akan terjual dengan nilai yang berbeda dengan nilai nominalnya. Perbedaan
antara nilai nominal dengan nilai sekarang arus kas yang diterima disebut agio
atau disagio.
470
Contoh, misalnya PT Mutiara memberi pinjaman kepada PT Trisna
Cendeikia sebesar Rp. 200.000.000,-, disertai dengan penerbitan wesel tagih
nominal Rp. 200.000.000,-, bunga 10% per tahun, jatuh tempo 3 tahun. Maka
nilai sekarang dari wesel tagih tersebut adalah:
a) Jika tingkat bunga pasar 10%
Nilai nominal wesel tagih Rp200.000.000,00
Nilai sekarang (Present Value) dari nilai nominal
(Rp200.000.000,00 x PVIF(n=3, i=10%)=
Rp200.000.000,00 x 0,75132 = Rp150.264.000,00
Nilai sekarang (Present Value) dari bunga
(Rp20.000.000,00 × PVIFA(n=3, i=10% =
Rp20.000.000,00 × 2,48685) = Rp 49.737.000,00
––––––––––––––––
Rp200.001.000,00
–––––––––––––––
Perbedaan (diabaikan) Rp 1.000,00
Karena selisihnya hanya Rp. 1.000,-, maka diabaikan, artinya nilai sekarang
sama dengan nilai nominalnya yaitu Rp. 200.000.000,-.
b) Jika tingkat bunga pasar 12%
Nilai nominal wesel tagih Rp200.000.000,00
Nilai sekarang (Present Value) dari nilai nominal
(Rp200.000.000,00 × PVIF(n=3, i=12%)=
Rp200.000.000,00 × 0,71178 = Rp142.356.000,00
Nilai sekarang (Present Value) dari bunga
(Rp20.000.000,00 x PVIFA(n=3, i=12%)=
Rp20.000.000,00 x 2,40183) = Rp 48.036.600,00
––––––––––––––––
Rp190.392.600,00
–––––––––––––––
Perbedaan (Disagio wesel tagih) Rp 9.607.600,00
Nilai sekarang wesel tagih lebih kecil daripada nilai nominalnya sebesar
Rp. 9.607.600,-, selisih ini disebut dengan disagio wesel tagih.
c) Jika tingkat bunga pasar 8%
Nilai nominal wesel tagih Rp200.000.000,00
Nilai sekarang (Present Value) dari nilai nominal
(Rp200.000.000,00 × PVIF(n=3, i=8%) =
Rp200.000.000,00 × 0,79383 = Rp158.766.000,00
Nilai sekarang (Present Value) dari bunga
(Rp20.000.000,00 x PVIFA(n=3, i=8%) =
Rp20.000.000,00 x 2,57710) Rp 51.542.000,00
––––––––––––––––
Rp210.308.000,00
–––––––––––––––
Perbedaan (Agio wesel tagih) Rp 10.308.000,00
471
Nilai sekarang wesel tagih lebih besar daripada nilai nominlanya sebesar
Rp. 10.308.000,-, selisih ini disebut dengan agio wesel tagih.
I. Penilaian Piutang Wesel (Wesel Tagih)
Wesel tagih jangka pendek dicatat dan dilaporkan pada nilai bersih yang
dapat direalisasi yakni jumlah nominalnya dikurangi semua penyisihan yang
diperlukan yaitu besarnya piutang yang diperkirakan tidak dapat ditagih.
Perhitungan dan estimasi yang terlibat dalam penilaian wesel tagih jangka
pendek sama seperti piutang, demikian pula untuk pencatatan beban piutang
yang tak tertagih sekaligus penyisihannya/cadangannya.
J. Mendiskontokan Wesel
Yang dimaksud dengan mendiskontokan wesel adalah meminjam uang ke
bank dengan menggunakan wesel sebagai jaminan. Bunga (diskonto) wesel
dihitung dengan cara sebagaimana dalam ilustrasi 4.2.
Ilustrasi 4.2: Cara Perhitungan Bunga (Diskonto)
Pada saat perusahaan ingin mendiskontokan wesel, yang juga perlu
diperhatikan disini adalah penentuan tanggal/ hari jatuh tempo. Ilustrasi 4.3
menunjukkan berbagai macam penentuan tanggal jatuh tempo dari sebuah
wesel. Tanggal jatuh tempo bisa ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama,
yakni kreditur menentukan dan debitur menyetujuinya dan akan berjanji
membayar pada tanggal yang sudah ditentukan kreditur. Selain itu, tanggal jatuh
tempo bisa didasarkan atas janji yang ditulis sendiri oleh debitur, atau bisa juga
pada akhir periode yang ditetapkannya.
Bunga
(diskonto)
Nilai Jatuh
Tempo
= × Tarif Diskonto ×
Periode
Diskonto
472
Ilustrasi 4.3: Berbagai Macam PenentuanTanggal Jatuh Tempo
Berdasarkan ilustrasi 4.2, dalam perhitungan bunga dan diskonto, satu tahun
diperhitungkan selama 360 hari dan hari bunga/diskonto dihitung berdasarkan
jumlah hari sesungguhnya sejak wesel diterima/didiskontokan sampai tanggal
jatuh tempo. Dalam perhitungan hari diskonto ini tanggal terjadinya transaksi
tidak diperhitungkan, tetapi tanggal jatuh temponya dihitung. Misalnya PT
Harapan Sentosa mempunyai wesel tagih dengan nominal Rp. 200.000.000,-
jangka waktu 3 bulan, tertanggal 1 April 2006 didiskontokan pada tanggal
22 April dengan diskonto 10%. Periode diskonto dihitung sebagai berikut:
22 – 30 April = 9 hari
Mei = 31 hari
Juni = 30 hari
1 Juli (Jatuh Tempo) = 1 hari
Periode Diskonto = 71 hari
473
Perhitungan pendiskontoan wesel dengan menggunakan contoh di atas
adalah sebagai berikut:
1. Wesel Tidak Berbunga
Jumlah uang yang diterima pada tanggal 22 April 2006 adalah:
Nilai jatuh tempo Rp 200.000.000,00
Diskonto: Rp200.000.000,00 × 10% × 71/360 3.944.444,00
––––––––––––––––
Uang yang diterima Rp 196.055.556,00
Pendiskontoan wesel diatas oleh pihak yang mendiskontokan wesel
(PT Harapan Sentosa) akan dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
2. Wesel Berbunga
Misalnya wesel di atas berbunga sebesar 12% setahun dan
didiskontokan dengan diskonto sebesar 10% setahun. Jumlah yang diterima
pada tanggal 22 April 2006 adalah:
Nilai nominal wesel Rp 200.000.000,00
Bunga: 12% × 3/12 × Rp200.000.000,00 6.000.000,00
––––––––––––––––
Nilai jatuh tempo wesel Rp 206.000.000,00
Diskonto: Rp.206.000.000 × 10% × 71/360 4.062.778,00
––––––––––––––––
Uang yang diterima Rp 201.937.222,00
PT Harapan Sentosa akan mencatat pendiskontoan wesel berbunga
diatas dengan jurnal sebagai berikut:
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2006
22 April Kas Rp 196.055.556,00
Beban Bunga Rp 3.944.444,00
Piutang Wesel (Piutang Wesel
Didiskontokan) Rp 200.000.000,00
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2006
22 April Kas Rp 201.937.222,00
Piutang Wesel (Piutang Wesel
Didiskontokan) Rp 200.000.000,00
Pendapatan Bunga (dimuka) Rp 1.937.222,00
474
Secara skematis hubungan yang ada dalam pendiskontoan wesel
sebagaimana dalam ilustrasi 4.4.
Ilustrasi 4.4: Hubungan dalam Pendiskontoan Wesel
Keterangan:
1. Pembeli (A) menyerahkan wesel pada penjual (B).
2. Penjual (B) mendiskontokan wesel ke bank (C) dan menerima uang.
3. Karena A tidak membayar, maka bank (C) menagih pada B.
4. B menagih A sebesar yang dibayarkannya ke bank (mungkin ditambah
bunga)
Untuk menjelaskan bagaimana masing-masing pihak yang melakukan
transaksi pendiskontoan wesel, berikut ini diberikan contohnya tetapi masih
berkaitan dengan PT Harapan Sentosa.
Kasus 1 Misal pada tanggal 1 April 2006 Ny. Rini memberikan wesel
sebesar Rp. 200.000.000 kepada PT Harapan Sentosa. Jangka
waktu wesel 3 bulan, tidak berbunga. Wesel ini oleh Ny. Wati
dimaksudkan untuk memperpanjang utangnya pada PT Harapan
Sentosa. Pada tanggal 22 April 2006 PT Harapan Sentosa
mendiskontokan wesel tersebut ke Bank Perdana dan dipotong
diskonto 10% setahun. Pada tanggal 1 Juli 2006 (tanggal jatuh
tempo) wesel dilunasi oleh Ny. Wati.
Kasus 2 Misalnya wesel Ny. Wati di atas berbunga 12% dan pada
tanggal jatuh temponya (1 Juli 2006 Ny. Wati tidak
membayar, tetapi baru dilunasi pada tanggal 1 Agustus
2006. Bunga yang dibebankan untuk jangka waktu
A
Pembeli
B
Penjual
C
Bank




1
2
3
475
tunggakan 12% setahun dari nilai nominal. Dengan adanya
perubahan contoh diatas, maka jurnal yang dibuat oleh masingmasing
pihak adalah sebagai berikut:
Keterangan 1:
Nilai nominal wesel Rp 200.000.000,00
Bunga: 12% × 3/12 × Rp200.000.000,00 6.000.000,00
––––––––––––––––
Nilai jatuh tempo wesel Rp 206.000.000,00
Diskonto: Rp206.000.000,00 × 10% × 71/360 4.062.778,00
––––––––––––––––
Uang yang diterima Rp 201.937.222,00
Keterangan 2:
Nilai jatuh tempo wesel Rp 206.000.000,00
Denda:
Rp200.000.000,00 × 12% × 1/12 Rp 2.060.000,00
Biaya penagihan Rp 200.000,00
––––––––––––––––
Jumlah yang dibayar Rp 208.260.000,00
476Penyelesaian Kasus 1
1 April 2006
Penyerahan wesel dari Utang Usaha Rp200.000.000,00 Piutang Wesel Rp200.000.000,00
Ny. Wati Utang Wesel Rp200.000.000,00 Piutang Usaha Rp200.000.000,00
kepada PT Harapan Sentosa
22 April 2006
PT Harapan Sentosa Kas Rp196.055.556,00 Pitang Wesel Rp200.000.000,00
mendiskontokan wesel kepada Beban Bunga Rp 3.944.444,00 Kas Rp196.055.556,00
Bank Perdana dibebani Piutang Wesel Pendapatan
diskonto 10% setahun Didiskontokan Rp200.000.000,00 Bunga Rp 3.944.444,00
1 Juli 2006 Ny. Wati Utang Wesel Rp200.000.000,00 Piutang wesel Kas Rp200.000.000,00
melunasi weselnya kepada Kas Rp200.000.000,00 Didiskontokan Rp200.000.000,00 Piutang Wesel Rp200.000.000,00
Bank Perdana Piutang Wesel Rp200.000.000,00
Transaksi
Jurnal
Ny. Wati
Jurnal
PT Harapan Sentosa
Jurnal
Bank Perdana
477 Penyelesaian Kasus 2
1 April 2006
Penyerahan wesel dari Utang Usaha Rp200.000.000,00 Piutang Wesel Rp200.000.000,00
Ny. Wati Utang Wesel Rp200.000.000,00 Piutang Usaha Rp200.000.000,00
kepada PT Harapan Sentosa
22 April 2006
PT Harapan Sentosa Kas Rp201.937.222,00 Pitang Wesel Rp200.000.000,00
mendiskontokan wesel kepada Piutang Wesel Pendapatan
Bank Perdana dibebani Didiskontokan Rp200.000.000,00 Bunga Rp 1.937.222,00
diskonto 10% setahun Pendapatan Kas Rp201.937.222,00
Bunga Rp 1.937.222,00
1 Juli 2006 Ny. Wati Piutang Usaha Rp206.000.000,00 Kas Rp206.200.000,00
tidak melunasi weselnya. Kas Rp206.000.000,00 Piutang Wesel Rp200.000.000,00
Bank menagih kepada Piutang Wesel Pendapatan
PT Harapan sentosa sebesar Didiskontokan Rp200.000.000,00 Bunga Rp 6.000.000,00
sebesar nilai jatuh tempo + Piutang Wesel Rp200.000.000,00 Biaya Tagih Rp 200.000,00
biaya penagihan
Rp200.000,00. PT Harapan
Sentosa melunasinya.
1 Agustus 2006 Ny. Wati Utang Wesel Rp200.000.000,00 Kas Rp208.260.000,00
melunasi weselnya. Beban Bunga Rp 8.060.000,00 Piutang Rp206.200.000,00
Perhitungannya: Lihat ke-2 Macam-2 Beban Rp 200.000,00 Pendapatan
Kas Rp208.260.000,00 Bunga Rp 2.060.000,00
Transaksi
Jurnal
Ny. Wati
Jurnal
PT Harapan Sentosa
Jurnal
Bank Perdana
478
Soal-Soal Latihan Bab 4
I. PERTANYAAN
1. Sebutkan tiga klasifikasi piutang!
2. Jenis-jenis transaksi apa yang menimbulkan piutang usaha?
3. Dalam bagian mana di neraca wesel tagih harus disajikan jika jangka
waktunya (a) 120 hari, (b) 6 tahun?
4. Sebutkan dua contoh dari piutang lain-lain!
5. Pegawai piutang usaha juga bertanggung jawab menangani penerimaan
kas. Prinsip pengendalian internal apa yang dilanggar dalam situasi ini?
6. Metode mana dari dua metode akuntansi untuk piutang tak tertagih yang
meminta pengakuan beban pada periode terjadi penjualan?
7. Penyisihan piutang tak tertagih itu merupakan jenis akun apa? Aset, kewajiban,
atau jenis akun yang lain? Jelaskan! dan apakah saldo normalnya, debit
ataukah kredit?
8. Setelah akun-akun disesuaikan dan ditutup pada akhir tahun fiskal, piutang
usaha memiliki saldo Rp. 883.150,- dan penyisihan piutang usaha dan
penyisihan piutang tak tertagih memiliki saldo sebesar Rp. 123.250,-.
Jelaskan bagaimana piutang usaha dan penyisihan piutang tak tertagih
dilaporkan di neraca?
9. PT. Andalas menerbitkan wesel kepada PT. Ekasakti (a) Siapa yang dibayar
(payee)? (b) Apa judul akun yang digunakan PT Ekasakti untuk mencatat
wesel tersebut?
10. Jika suatu wesel mencantumkan pembayaran pokoknya yaitu sebesar
Rp. 90.000,- dan bunga 7%, apakah bunga akan berjumlah Rp. 6.300,-?
Jelaskan!
479
11. Pembuat wesel tagih bernilai Rp. 20.000,- , berbunga 9%, berjangka waktu
120 hari, yaitu 30 Juli. Akun apa yang harus didebit dan dikredit oleh penerima
wesel untuk mencatat wesel tagih yang ditolak tersebut.
12. Wesel tagih yang ditolak dalam pertanyaan nomor 11 akhirnya dibayarkan
pada tanggal 29 Agustus oleh pembuatnya, ditambah bunga 12% untuk 30
hari. Ayat jurnal apa yang harus dibuat untuk mencatat penerimaan
pembayaran tersebut.
13. Dalam bagian apa piutang usaha harus dilaporkan dalam neraca.
II. LATIHAN SOAL PILIHAN
Latihan 4.1
Pada akhir tahun fiskal, sebelum akun-akun disesuaikan, piutang usaha memiliki
saldo Rp. 200.000,- dan penyisihan piutang tak tertagih memiliki saldo kredit
Rp. 2.500,-. Juka estimasi piutang tak tertagih yang ditentukan menurut umur
piutang adalah Rp. 8.500,-, maka jumlah beban piutang tak tertagih adalah:
A. Rp 2.500
B. Rp 6.000
C. Rp 8.000
D. Rp 11.000
Latihan 4.2
Pada akhir tahun fiskal, piutang usaha memiliki saldo Rp. 100.000,- dan
penyisihan piutang tak tertagih memiliki saldo Rp. 7.000,-. Nilai realisasi bersih
yang diharapkan dari piutang usaha adalah:
A. Rp 7.000
B. Rp 93.000
C. Rp 100.000
D. Rp 107.000
480
Latihan 4.3
Berapa nilai jatuh tempo sebuah wesel tagih bernilai Rp. 10.000,-, berjangka
waktu 90 hari dan berbunga 12%?
A. Rp 8.800
B. Rp 10.000
C. Rp 10.300
D. Rp 11.200
Latihan 4.4
Kapan tanggal jatuh tempo sebuah wesel yang bernilai Rp. 12.000,-, berjangka
waktu 90 hari, dan berbunga 8% yang diterbitkan tanggal 5 Agustus?
A. 31 Oktober
B. 2 November
C. 3 November
D. 4 November
Latihan 4.5
Pada saat wesel tagih ditolak, piutang usaha didebit sebesar?
A. Nilai nominal wesel
B. Nilai jatuh tempo wesel
C. Nilai jatuh tempo wesel dikurangi bunga akrual
D. Nilai jatuh tempo wesel ditambah bunga akrual
481
III. SOAL
Soal 4.1
PT. Bukana adalah distribusi perlengkapan kantor. Umur piutang usaha
perusahaan pada tanggal 31 Desember 2006 dan analisis historis atas
persentase piutang tak tertagih dalam masing-masing kategori umur adalah
sebagai berikut:
Interval Umur Saldo % Tak Tertagih
Belum jatuh tempo Rp 450.000 2
1– 30 hari telah jatuh tempo Rp 110.000 4
31 – 60 hari telah jatuh tempo Rp 1.000 6
61 – 90 hari telah jatuh tempo Rp 12.500 20
90 – 180 hari telah jatuh tempo Rp 7.500 60
Lebih dari 180 hari telah jatuh tempo Rp 5.500 80
Rp 636.500
Pertanyaan:
Buatlah estimasi berapa saldo penyisihan piutang tak tertagih yang tepat per
31 Desember 2006.
Soal 4.2
Dengan menggunakan data-data yang terdapat dalam soal 1, asumsikan bahwa
penyisihan piutang tak tertagih PT. Bukana memiliki saldo kredit sebesar
Rp1.575 per 31 Desember 2006.
Soal 4.3
Pada akhir tahun berjalan, akun piutang usaha memiliki saldo debit sebesar
Rp. 840.000,- dan penjualan bersih selama setahun berjumlah Rp. 7.150.000,-.
Tentukanlah jumlah ayat jurnal penyesuaian untuk penyisihan piutang tak
tertagih menurut masing-masing asumsi berikut:
a. Akun penyisihan sebelum penyesuaian memiliki saldo kredit sebesar
Rp. 1.780,-. Beban piutang tak tertagih diestimasikan sebesar ¼ dari 1%
dari penjualan bersih.
482
b. Akun penyisihan sebelum memiliki saldo kredit Rp. 2.750,-. Analisis piutang
dalam buku besar pelanggan mengindikasikan piutang tak tertagih sebesar
Rp. 16.350,-.
c. Akun penyisihan sebelum penyesuaian memiliki saldo debit sebesar
Rp. 3.050,-. Beban piutang tak tertagih diestimasikan sebesar ½ dari 1%
dari penjualan bersih.
d. Akun penyisihan sebelum penyesuaian memiliki saldo debit sebesar
Rp. 3.050,-. Analisis piutang dalam buku besar pelanggan mengindikasikan
piutang tak tertagih sebesar Rp. 38.400,-.
Soal 4.4
PT. Saputra sebuah perusahaan konsultan komputer, telah memutuskan untuk
menghapus saldo piutang usaha seorang pelanggan Rp. 7.130,-. Buatlah ayat
jurnal untuk mencatat penghapusan (a) dengan mengasumsikan bahwa
perusahaan menggunakan metode penyisihan dan (b) dengan mengasumsikan
bahwa perusahaan menggunakan metode penghapusan langsung.
Soal 4.5
Buatlah ayat jurnal untuk transaksi-transaksi berikut dalam akun PT. Linda
Makmur, sebuah perusahaan pemasok kebutuhan restoran yang menggunakan
metode penyisihan akuntansi untuk piutang tak tertagih:
20 Feb Menjual barang dagang secara kredit kepada PT. Bintang sebesar
Rp. 12.100,-. Harga pokok penjualan adalah sebesar Rp. 7.260,-.
30 Mei Menerima Rp. 6.000,- dari PT. Bintang dan menghapus sisanya dari
penjualan tanggal 20 Februari sebagai piutang tak tertagih.
3 Agt Menimbulkan kembali piutang usaha PT. Bintang yang telah dihapus
pada tanggal 30 Mei dan menerima pembayaran kas Rp. 6.100,- secara
penuh.
483
Soal 4.6
Buatlah ayat jurnal untuk transaksi-transaksi berikut dalam akun PT. Gayatri yang
menggunakan metode penghapusan langsung untuk mencatat piutang tak
tertagih:
6 Juli Menjual barang dagang secara kredit kepada CV.Tiga sebesar
Rp. 18.500,-. Harga pokok penjualan adalah Rp. 11.100,-.
12 Sep Menerima Rp. 9.000,- dari CV. Tiga dan menghapus sisanya dari
penjualan tanggal 6 Juli sebagai piutang tak tertagih.
20 Des Menimbulkan kembali piutang usaha CV. Tiga yang telah dihapus pada
tanggal 12 Sep dan menerima pembayaran kas Rp. 9.500,- secara
penuh.
Soal 4.7
Buatlah ayat jurnal untuk mencatat transaksi-transaksi berikut dari PT. Permata:
8 Jul Menerima wesel senilai Rp. 30.000,-, berjangka waktu 90 hari dan
berbunga 10% dari PT. Himalaya atas piutangnya pada tanggal 8 Juli.
6 Okt PT. Himalaya tidak membayar wesel yang telah jatuh tempo itu.
5 Nov Menerima pelunasan wesel yang sebelumnya ditolak ditambah bunga
10% untuk masa 30 hari, atas jumlah total yang dibebankan kepada
PT. Himalaya tanggal 6 Oktober.
Soal 4.8
Pegawai piutang dagang PT. Martin yang mendapat gaji 1.100.000 per bulan
baru saja membeli sepeda motor, PT. Martin meminta akuntannya untuk menguji
ketepatan saldo piutang dagang sebesar 132.000.000 sebagaimana yang
diperlihatkan di dalam buku besar, informasi berikut tersedia dari bisnis
PT. Martin:
484
a. Penagihan dari pelanggan Rp 198.000.000,00
b. Barang dagang yang dibeli Rp 360.000.000,00
c. Persediaan barang dagang akhir Rp 90.000.000,00
d. Barang yang akan dijual ditandai dengan 40% di atas harga pokok.
Pertanyaan:
Hitunglah estimasi saldo akhir piutang dagang dari pelanggan yang harus
tampak dalam buku besar dan setiap kekurangan yang ada. Asumsikan semua
penjualan dilakukan secara kredit.
Soal 4.9
Pada tanggal 1 Jan 2006, saldo kredit didalam perkiraan penyisihan untuk
piutang yang diragukan dari PT. Kapasari Rp. 400.000.000,-. Untuk tahun 2006
penyisihan untuk piutang yang diragukan didasarkan pada prosentase dari
penjualan bersih. Penjualan bersih untuk tahun 2006 adalah
Rp. 70.000.000.000,-. Berdasarkan kenyataan yang tersedia paling mutakhir,
penyisihan 2006 untuk piutang yang diragukan diestimasikan sebesar 0,8% dari
penjualan bersih. Selama tahun 2006 piutang yang tak tertagih sebesar
Rp. 490.000.000,- dihapuskan terhadap penyisihan untuk piutang yang
diragukan.
Pertanyaan:
Buatlah suatu skedul yang menghitung saldo dalam penyisihan untuk piutang
yang diragukan PT. Kapasari pada tanggal 31 Des 2006.

kas


433
BAB 3
KAS
Kas adalah alat pertukaran
dan dasar pengukuran
yang digunakan dalam
akuntansi
A. Pendahuluan
Aset merupakan sumberdaya penting yang diperlukan oleh perusahaan
untuk menjalankan aktivitas usahanya. Kas merupakan jenis aset yang
paling cepat dapat dikonversi menjadi aset lainnya. Kas juga berguna untuk
segera memenuhi kewajiban perusahaan yang jatuh tempo. Sehingga
ketersediaan kas dalam jumlah yang cukup akan menentukan likuiditas
perusahaan. Hampir pada setiap transaksi dengan pihak luar selalu
mempengaruhi kas.
B. Pengertian Kas
Kas adalah aset yang paling likuid. Kas
merupakan alat pertukaran dan juga digunakan
sebagai dasar pengukuran dalam akuntansi. Agar
dapat dilaporkan sebagai ”kas” pos bersangkutan
harus siap tersedia untuk pembayaran kewajiban lancar dan harus bebas
dari ikatan kontraktual yang membatasi penggunaannya dalam pemenuhan
utang.
Ibarat seorang manusia, kas merupakan darah yang akan mengalir di
tubuh perusahaan, kas akan memberikan dukungan makanan terhadap
seluruh operasional bagian tubuh perusahaan. Jika kas yang mengalir
mengalami gangguan, maka opersional perusahaan pun juga akan dapat
terganggu. Begitu pentingnya kas bagi sebuah perusahaan atau bisnis, maka
kas merupakan aset yang paling likuid diantara aset-aset lainnya, dan
senantiasa diletakkan di bagian yang paling atas di neraca perusahaan.
434
C. Komposisi Kas
Yang termasuk dalam kas menurut pengertian akuntansi adalah alat
pertukaran yang dapat diterima untuk pelunasan utang dan dapat diterima
sebagai suatu setoran ke bank dengan jumlah sebesar nominalnya.
Kas adalah alat pertukaran
yang dapat diterima untuk
pelunasan utang dan
dapat diterima sebagai
suatu setoran ke bank
dengan jumlah sebesar
nominalnya.
Termasuk dalam pengertian kas adalah
simpanan dalam bank dalam bentuk tabungan,
deposito maupun giro atau tempat-tempat lain yang
dapat diambil sewaktu-waktu.
Kas terdiri dari:
1. uang kertas
2. uang logam
3. cek yang belum disetorkan
4. simpanan dalam bentuk giro atau bilyet
5. rekening tabungan
6. traveller’s checks
7. cek kasir (cashier’s cheks)
8. wesel bank (bank draft)
9. money order
10. kas kecil
11. uang kembalian
12. kas yang ada di cabang cabang tetap
Yang tidak termasuk kas meliputi:
1. Cek Mundur (Post Dated Checks)
Cek mundur tetap dicatat sebagai piutang sampai tanggal di mana cek
tadi dapat diuangkan.
2. Bon Utang
Bon utang diperlakukan sebagai piutang.
3. Uang Muka Perjalanan
435
Uang muka perjalanan diperlakukan sebagai piutang jika uang muka
tersebut akan ditagih dari karyawan atau dikurangkan dari gajinya.
4. Perangko Pos
Perangko pos diperlakukan sebagai persediaan perlengkapan (supplies)
kantor atau toko atau sebagai beban dibayar dimuka.
5. Dana kas untuk tujuan khusus misalnya dana yang disisihkan untuk
pembayaran utang obligasi.
D. Manajemen dan Pengendalian Kas
Prinsip pengendalian internal terhadap kas menetapkan bahwa harus
ada pemisahan fungsi-fungsi yang berhubungan dengan pengelolaan kas
yaitu pemisahan antara fungsi penyimpanan, pelaksana dan pencatatan.
Jelasnya harus dipisahkan misalnya fungsi penerimaan, pengeluaran,
penyimpanan dan pencatatan (akuntansi) kas. Mengapa pengendalian kas
penting?
Alasannya adalah pertama, kas merupakan satu satunya aset yang
mempunyai sifat segera dapat dikonversikan menjadi jenis aset lain. Kas ini
mudah digelapkan dan dipindahtangankan dan hampir secara universal
diinginkan setiap orang. Kedua, jumlah kas yang dimiliki oleh sebuah
perusahaan harus diatur secara seksama sehingga tidak terlalu banyak atau
terlalu sedikit yang tersedia pada setiap saat. Jika terjadi kelebihan (idle
cash) perusahaan kehilangan kesempatan untuk memperoleh penghasilan
jika kas tersebut dapat diinvestasikan, sehingga sering dikatakan tidak
produktif. Tetapi jika kekurangan kas akan menyebabkan perusahaan
kesulitan likuiditasnya.
Selain pemisahan fungsi penerimaan dan pengeluaran serta
penyimpanan, pengendalian internal terhadap kas dapat dilakukan dengan
menerapkan sistem berikut ini:
436
1. Penggunaan Rekening Bank
Kas yang dimiliki oleh perusahaan tidak semuanya disimpan di dalam
perusahaan, tetapi disimpan di bank (rekening bank). Simpanan di bank
yang memenuhi kriteria sebagai kas misalnya tabungan dan giro.
Rekening bank yang dimiliki perusahaan bisa lebih dari satu bank.
2. Transfer Dana Elektronik (TDE)
Pemindahan dana dari satu pihak kepada pihak lainnya tidak selalu
menggunakan media kertas misalnya jika kita mau mengirimkan uang
ke pemasok kita harus datang ke bank dengan mengisi formulir
pengiriman uang. Metode yang memanfaatkan teknologi seperti telepon,
telegraf, komputer, satelit atau peralatan elektronik lainnya dapat dengan
mudah digunakan untuk memindahkan dana dari satu pihak ke pihak
lainnya.
3. Sistem Kas Kecil
Untuk pembayaran dalam jumlah yang kecil seperti bayar makan
siang, ongkos taksi, sumbangan, beli perlengkapan kantor yang kecil
kecil, tidak mungkin dilakukan dengan mengeluarkan cek. Oleh karena
itu perusahaan harus menyediakan dana sebagai kas kecil untuk
memenuhi kebutuhan di atas.
4. Proteksi Fisik atas Saldo Kas
Tidak hanya melalui pemisahan fungsi penerimaan, pengeluaran
dan pencatatan saja yang diperlukan dalam pengendalian terhadap kas,
tetapi juga perlu melindungi secara fisik kas yang disimpan di
perusahaan (cash on hand) dan kas di bank. Perlindungan secara fisik
dilakukan dengan menyediakan lemari besi, peti penyimpanan atau laci
kas yang terkunci.
437
5. Rekonsiliasi Saldo Bank
Karena uang perusahaan ada yang disimpan di bank, dan seringkali
terjadi perbedaan dan keterlambatan informasi mengenai mutasi kas di
bank maka secara periodik perlu dilakukan pencocokan antar catatan
menurut bank dan menurut perusahaan untuk menentukan saldo yang
benar pada tanggal tertentu misal pada tanggal pelaporan keuangan.
Pengendalian internal penerimaan kas. Penerimaan uang dalam suatu
perusahaan bisa berasal dari beberapa sumber-sumber lain dari penjualan
tunai, pelunasan piutang atau dari pinjaman. Prosedur-prosedur
pengawasan yang dapat digunakan antara lain:
a. Harus ditunjukkan dengan jelas fungsi-fungsi dalam penerimaan kas
dan setiap penerimaan kas harus segera dicatat dan disetor ke bank.
b. Diadakan pemisahan fungsi antara pengurusan kas dengan fungsi
pencatatan kas.
c. Diadakan pengawasan yang ketat terhadap fungsi penerimaan dan
pencatatan kas. Selain itu setiap hari harus dibuat laporan kas.
Pengendalian internal pengeluaran kas. Pengeluaran uang dalam suatu
perusahaan itu adalah untuk membayar bermacam-macam transaksi.
Apabila pengawasan tidak dijalankan dengan ketat, seringkali jumlah
pengeluaran diperbesar dan selisihnya digelapkan. Beberapa prosedur
pengawasan yang penting adalah sebagai berikut:
a. Semua pengeluaran uang menggunakan cek, kecuali untuk
pengeluaran-pengeluaran kecil dibayar dari kas kecil.
b. Dibentuk kas kecil yang diawasi dengan ketat.
438
c. Penulisan cek hanya dilakukan apabila didukung bukti-bukti (dokumendokumen)
yang lengkap atau dengan kata lain digunakan system voucher.
d. Dipisahkan antara orang-orang yang mengumpulkan bukti-bukti
pengeluaran, yang menulis cek, yang menandatangani cek dan yang
mencatat pengeluaran kas.
e. Diadakan pemeriksaan intern dengan jangka waktu yang tidak tentu.
f. Diharuskan membuat laporan kas harian.
E. Kas Kecil
Dana kas kecil adalah uang kas yang disediakan
untuk membayar pengeluaran-pengeluaran
yang jumlahnya relatif kecil dan tidak
ekonomis bila dibayar dengan cek. Dalam hubungannya
dengan kas kecil, ada 2 metode yang dapat
digunakan, yaitu imprest system dan metode
fluktuasi.
Dana kas kecil adalah
uang kas yang disediakan
untuk membayar
pengeluaran-pengeluaran
yang jumlahnya relatif kecil
dan tidak ekonomis bila
dibayar dengan cek.
1. Sistem Imprest
Di dalam sistem ini jumlah dalam rekening kas kecil selalu tetap,
yaitu sebesar cek yang diserahkan kepada kasir kas kecil untuk
membentuk dana kas kecil. Oleh kasir kas kecil, cek tadi diuangkan ke
dalam bank dan uangnya digunakan untuk membayar pengeluaranpengeluaran
kecil. Setiap kali melakukan pembayaran kasir kas kecil
harus membuat bukti pengeluaran harus disimpan bersama dengan sisa
uang yang ada dalam peti kas (cash box).
Apabila jumlah kas kecil tinggal sedikit dan juga pada akhir periode,
kasir kas kecil akan minta pengisian kembali kas kecilnya sebesar jumlah
yang sudah dibayar dari kas kecil. Dengan cara ini jumlah uang dalam
kas kecil kembali lagi seperti semula.
439
Pada waktu meminta pengisian kembali, kasir kas kecil akan
menyerahkan bukti-bukti pengeluaran dan menerima cek sebesar
pengeluaran yang sudah dibayar. Pengisian kembali ini dicatat dengan
mendebit rekening yang sesuai untuk masing-masing pengeluaran yang
dasarnya adalah bukti-bukti pengeluaran dan kreditnya kas. Dengan cara
ini saldo rekening kas kecil tidak akan berubah. Yang membuat jurnal
adalah bagian akuntansi.
Untuk mengetahui sisa uang yang ada dalam kas kecil, kasir kas
kecil bisa membuat catatan kas kecil. Tetapi perlu diketahui bahwa
catatan kasir kas kecil tadi bukannya buku jurnal tetapi merupakan
catatan intern untuk kasir kas kecil.
Untuk memberikan ilustrasi bagaimana penerapan sistem imprest
untuk dana kas kecil ini kita mari kita lihat contoh dibawah ini.
Misalnya PT Bahagia Sejati pada tanggal 1 Maret 2007 membentuk
dana kas kecil sebesar Rp. 2.000.000,-. Pengeluaran kas kecil sampai
tanggal 25 Maret 2007 sebesar Rp. 1.750.000,- dengan rincian sebagai
berikut:
Pada tanggal 26 Maret 2007 dilakukan pengisian kembali sebesar
Rp. 1.750.000,00.
Transaksi-transaksi di atas akan dicatat dalam buku jurnal sebagai
berikut:
Beban Rupa-rupa Rp 150.000,00
Beban Listrik Rp 170.000,00
Uang Makan Lembur Rp 325.000,00
Beban Telpon Rp 280.000,00
Sumbangan Rp 175.000,00
Supplies Kantor Rp 300.000,00
Ongkos Taxi Rp 350.000,00
440
Jika perusahaan akan menyusun laporan keuangannya per 31 Maret
2007 dan sampai dengan tanggal tersebut belum dilakukan pengisian
kembali, maka saldo kas kecil tinggal Rp. 250.000,-. Sedangkan
pengeluaran-pengeluaran untuk berbagai macam biaya belum dicatat.
Jika demikian maka perusahaan harus membuat jurnal penyesuaian
pada tanggal 31 Maret 2007 untuk mencatat pengeluaran pengeluaran
tersebut. Adapun jurnal penyesuaian yang dibuat adalah sebagai berikut:
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007 Dana Kas Kecil Rp 2.000.000
1 Maret Kas Rp 2.000.000
(Pembentukan dana kas kecil)
1–25 Maret Tidak ada jurnal
25 Maret Biaya rupa-rupa Rp 150.000
Beban Listrik 170.000
Uang makan lembur 325.000
Beban Telpon 280.000
Sumbangan 175.000
Supplies kantor 300.000
Ongkos taksi 350.000
Kas Rp 1.750.000
(Pengisian kembali kas kecil)
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007 Biaya rupa-rupa Rp 150000
31 Maret Listrik 170.000
Uang makan lembur 325.000
Telpon 280.000
Sumbangan 175.000
Supplies kantor 300.000
Ongkos taksi 350.000
Kas Rp 1.750.000
(Penyesuaian)
Memasuki awal periode pembukuan berikutnya yaitu periode April
2007 maka pada tanggal 1 April 2007 akan dibuat jurnal penyesuaian
kembali dengan tujuan agar saldo kas kecil
441
kembali seperti semula dan baru dilakukan pencatatan pengeluaran
yang telah terjadi pada tanggal pengisian kembali.
Jurnal penyesuaian kembali yang dibuat tanggal 1 April 2007 adalah
sebagai berikut:
Perusahaan sewaktu-waktu bisa menentukan jumlah dana kas kecil
menjadi lebih kecil atau lebih besar daripada saldo biasanya.
Jika perusahaan memutuskan untuk menurunkan saldo kas kecil
yang semula Rp. 200.000,- menjadi Rp. 150.000,-, maka penurunan kas
kecil akan dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007 Kas Rp 1.750.000
31 Maret Biaya rupa-rupa Rp 150.000
Listrik 170.000
Uang makan lembur 325.000
Telpon 280.000
Sumbangan 175.000
Supplies kantor 300.000
Ongkos taksi 350.000
(Penyesuaian kembali)
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007 Kas Rp 50.000
31 Maret Kas Kecil Rp 50.000
(Pengisian kembali dengan
menurunkan saldo kas kecil)
Sebaliknya jika perusahaan memutusakan untuk meningkatkan
saldo kas kecil dari Rp. 200.000,- menjadi Rp. 250.000,-, maka
peningkatan kas kecil akan dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007 Kas Kecil Rp 50.000
31 Maret Kas Rp 50.000
(Pengisian kembali dengan
menaikkan saldo kas kecil)
442
Setelah dilakukan pencatatan pengurangan atau penambahan kas
kecil ini maka kas kecil akan menunjukkan saldonya yang baru.
2. Metode Fluktuasi
Dalam metode fluktuasi jumlah saldo kas kecil berubah-ubah atau
berfluktuasi setelah dilakukan pengisian kembali. Artinya saldo awal
setelah pembentukan akan berbeda dibandingkan dengan saldo setelah
pengisian kembali. Hal inilah yang membedakannya dengan sitem
imprest.
Penggunaan metode fluktuasi dan prosedur pencatatannya
dijelaskan sebagai berikut:
a. Pada saat pembentukan dana kas kecil akan dilakukan pencatatan
dengan mendebit akun kas kecil dan mengkredit akun kas
b. Setiap ada pengeluaran kas kecil langsung dilakukan pencatatan
dengan mendebit akun biaya dan mengkredit akun kas kecil
c. Pengisian kembali dapat dilakukan sebesar jumlah yang sama, lebih
besar ataupun lebih kecil seperti pada saat pembentukan tanpa
memperhatikan berapa kas kecil yang sudah dikeluarkan.
Berikut ilustrasi dari penggunaan metode fluktuasi pada suatu
perusahaan. Misal PT Bahagia Sejati pada tanggal 1 Maret 2007
membentuk dana kas kecil sebesar Rp. 2.000.000,-. Pengeluaran kas
kecil sampai tanggal 25 Maret 2007 sebesar Rp. 1.750.000,- dengan
rincian sebagai berikut:
2 Maret Beban Rupa-rupa Rp 150.000,00
5 Maret Beban Listrik Rp 170.000,00
15 Maret Uang Makan Lembur Rp 325.000,00
17 Maret Beban Telpon Rp 280.000,00
18 Maret Sumbangan Rp 175.000,00
22 Maret Supplies Kantor Rp 300.000,00
25 Maret Ongkos Taksi Rp 350.000,00
443
Transaksi-transaksi di atas akan dicatat dalam buku jurnal sebagai
berikut:
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
2007
1 Maret Dana Kas Kecil Rp 2.000.000
Kas Rp 2.000.000
(Pembentukan dana kas kecil)
2 Maret Biaya rupa rupa Rp 150.000
Kas Kecil Rp 150.000
5 Maret Biaya Listrik Rp 170.000
Kas Kecil Rp 17.000
15 Maret Biaya lembur Rp 325.000
Kas Kecil Rp 325.000
17 Maret Biaya Telpon Rp 280.000
Kas Kecil Rp 280.000
18 Maret Sumbangan Rp 175.000
Kas Kecil Rp 175.000
22 Maret Biaya Supplies kantor Rp 300.000
Kas Kecil Rp 300.000
25 Maret Ongkos taksi Rp 350.000
Kas Kecil Rp 350.000
(Pencatatan Pengeluaran Kas
Kecil)
26 Maret Kas Kecil Rp 2.000.000
Kas Rp 2.000.000
(Pengisian Kembali Kas Kecil
sebesar Rp. 200.000)
Jika transaksi-transaksi di atas diposting ke dalam akun kas kecil
maka akan nampak bahwa saldo kas kecil setelah pengisian kembali
akan berubah dibandingkan saldo awal pada saat pembentukan, dimana
saldo pada saat pembentukan Rp. 2.000.000,- sedangkan saldo setelah
pengisian kembali Rp. 2.250.000,-. Untuk mencari saldo setelah
pengisian kembali, ayat jurnal yang mencatat setiap pengeluaran kas
kecil dan pengisian kembali akan diposting ke dalam akun kas kecil
sebagai berikut:
444
(dalam rupiah) Kas Kecil
F. Rekonsiliasi Laporan Bank
Sesuai dengan prinsip pengendalian internal untuk kas, setiap
perusahaan akan menyimpan uangnya sebagian di bank (disebut dengan
kas bank atau cash in bank) dan sebagian lagi di dalam perusahaan (disebut
kas di tangan atau cash on hand). Disamping itu kebanyakan perusahaan
mempunyai kebijakan bahwa setiap penerimaan kas langsung disetor ke
bank sedangkan setiap pengeluaran akan dilakukan dengan menggunakan
cek kecuali untuk pengeluaran yang relatif kecil.
Umumnya setiap bulan bank akan mengirimkan rekening koran ke
perusahaan untuk memberikan informasi tentang saldo awal, penerimaan
dan pengeluaran kas yang terjadi dalam bulan tersebut serta saldo akhirnya.
Rekening koran ini sangat berguna bagi perusahaan untuk mengecek
ketelitian pencatatan kas yang telah dilakukan oleh perusahaan dan dapat
berguna pula untuk mengetahui transaksi yang mempengaruhi kas tetapi
perusahaan tidak tahu dan belum mencatatnya dalam pembukuan
perusahaan. Sehingga seringkali terjadi perbedaan saldo kas menurut
catatan perusahaan dan saldo kas menurut bank. Perusahaan perlu untuk
menentukan saldo kas yang benar pada bulan tertentu terutama jika akan
membuat laporan keuangan akhir periode.
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
2007 2007
Maret 1 Pembentukan 2.000.000 Maret 2 Rupa-rupa 150.000
5 Listrik 170.000
15 Lembur 325.000
17 Telpon 280.000
18 Sumbangan 175.000
22 Suppllies 300.000
25 Taksi 350.000
26 Pengisian kembali 2.000.000
Saldo 2.250.000
445
Proses untuk menentukan saldo kas yang benar ini dilakukan dengan cara
Rekonsiliasi bank adalah
skedul atau daftar yang
menjelaskan setiap
perbedaan saldo kas
menurut catatan bank dan
catatan kas perusahaan
sehingga didapatkan saldo
yang benar
membuat rekonsiliasi laporan bank.
Rekonsiliasi bank adalah sebagai skedul atau
daftar yang menjelaskan setiap perbedaan saldo
antara catatan bank dengan catatan kas perusahaan
sehingga didapatkan saldo kas yang
benar. Jika perbedaan tersebut hanya berasal dari
transaksi-transaksi yang belum dicatat oleh bank, catatan kas perusahaan
dianggap benar. Tetapi jika beberapa bagian dari perbedaan itu berasal dari
pos pos lain, catatan bank atau catatan perusahaan harus disesuaikan.
Hal-hal yang dapat menimbulkan perbedaan dapat digolongkan sebagai
berikut:
1. Elemen-elemen yang oleh perusahaan sudah dicatat sebagai
penerimaan uang tetapi belum dicatat oleh bank.
Contoh:
a. Setoran yang dikirimkan ke bank pada akhir bulan tetapi belum
diterima oleh bank sampai bulan berikutnya (setoran dalam
perjalanan).
b. Setoran yang diterima oleh bank pada akhir bulan, tetapi dilaporkan
sebagai setoran bulan berikutnya, karena laporan bank sudah
terlanjur dibuat (setoran dalam perjalanan).
c. Uang tunai yang tidak disetorkan ke bank.
2. Elemen-elemen yang sudah dicatat sebagai penerimaan oleh bank tetapi
belum dicatat oleh perusahaan.
Contoh:
a. Bunga yang diperhitungkan oleh bank terhadap simpanan, tetapi
belum dicatat dalam buku perusahaan (jasa giro).
446
b. Penagihan wesel oleh bank, sudah dicatat oleh bank sebagai
penerimaan tetapi perusahaan belum mencatatnya.
3. Elemen-elemen yang sudah dicatat oleh perusahaan sebagai
pengeluaran tetapi bank belum mencatatnya.
Contoh:
a. Cek-cek yang beredar (outstanding checks) yaitu cek yang sudah
dikeluarkan oleh perusahaan dan sudah dicatat sebagai
pengeluaran kas tetapi oleh yang menerima belum diuangkan ke
bank, sehingga bank belum mencatatnya sebagai pengeluaran.
b. Cek yang sudah ditulis dan sudah dicatat dalam jurnal pengeluaran
uang, tetapi ceknya belum diserahkan kepada yang dibayar, maka
cek tersebut belum merupakan pengeluaran oleh karena itu jurnal
pengeluaran kas harus dikoreksi pada akhir periode.
4. Elemen-elemen yang sudah dicatat oleh bank sebagai pengeluaran
tetapi perusahaan belum mencatatnya.
Contoh:
a. Cek dari langganan yang ditolak oleh bank
karena kosong tetapi belum dicatat oleh
perusahaan.
b. Bunga yang diperhitungkan atas overdraft
(saldo kredit kas) tetapi belum dicatat oleh
perusahaan.
c. Biaya jasa bank yang belum dicatat oleh perusahaan.
Selain keempat hal di atas, perbedaan antara saldo kas dengan saldo
menurut laporan bank bisa juga terjadi akibat kesalahan-kesalahan.
Kesalahan-kesalahan ini bisa timbul dalam catatan perusahaan maupun
dalam catatan bank. Untuk dapat membuat rekonsiliasi laporan bank,
kesalahan-kesalahan yang ada harus dikoreksi.
Pos-pos rekonsiliasi:
setoran dalam perjalanan,
cek-cek yang beredar,
beban bank, kredit bank,
dan kesalahan bank atau
perusahaan
447
Rekonsiliasi bank dapat dibuat dalam 2 cara yang berbeda:
1. Rekonsiliasi saldo akhir yang dibuat dalam 2 bentuk:
a. Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukkan
saldo yang benar.
b. Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas.
2. Rekonsiliasi saldo awal, penerimaan, pengeluaran dan saldo akhir yang
bisa dibuat dalam 2 bentuk:
a. Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas (4 kolom).
b. Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukkan
saldo yang benar (8 kolom).
Bentuk dari rekonsiliasi terdiri dari dua bagian yaitu pertama, saldo per
rekening koran (laporan bank) dan kedua, saldo per buku perusahaan. Kedua
bagian berakhir dengan saldo kas yang benar. Saldo kas yang benar ini
yang akan dicantumkan dalam neraca.
Berikut ini diberikan contoh bagaimana membuat rekonsiliasi bank.
Misalnya PT Sari Agro mempunyai catatan atas saldo kasnya di Bank BNI
pada tanggal 31 Desember 2006 sebesar Rp. 205.020.000,-. Menurut
rekening koran yang diterima perusahaan saldo kas PT. Sari Agro adalah
Rp. 221.900.000,-. Berdasarkan hasil pemeriksaan atas catatan PT Sari Agro
dan rekening koran bank BNI untuk bulan Desember 2006, menunjukkan
pos-pos rekonsiliasi sebagai berikut:
1. Setoran sebesar Rp. 36.800.000,- yang diposkan tanggal 30 Desember
2006 belum tampak dalam rekening koran.
2. Cek cek yang ditulis bulan Nopember tetapi belum dibebankan ke
rekening kopran bulan Desember 2006 adalah:
Cek No. 7777 Rp. 1.500.000,-
Cek No. 7778 Rp.48.200.000,-
Cek No. 7780 Rp. 310.000,-
448
3 PT Sari Agro belum mencatat bunga Rp. 6.000.000,- yang ditagih oleh
bank pada tanggal 20 Nopember atas obligasi PT Telkom oleh bank
BNI.
4. Beban jasa bank sebesar Rp. 180.000,- belum dicatat oleh perusahaan.
5. Salah satu cek PT. Antariksa sebesar Rp. 200.000.000,- dikembalikan
karena kosong. Bank memperlakukan cek kosong ini sebagai
pengeluaran.
6. PT Sari Agro mencatat bahwa cek dengan nomor 7733 yang berjumlah
Rp. 1.310.000,- yang ditulis bulan Desember 2006 untuk pembayaran
sebuah utang dagang, dicatat secara tidak benar dalam bukunya sebagai
Rp. 3.110.000,-.
7. Cek untuk PT Sari Agribisnis sejumlah Rp. 1.750.000,- disertakan pada
rekening koran telah dibebankan tidak benar ke PT Sari Agro.
Berdasarkan data-data di atas dapat dibuat rekonsiliasi bank
sebagaimana nampak dalam halaman berikut.
Dari hasil rekonsiliasi maka saldo kas yang benar yang akan dicantumkan
di neraca per 31 Desember 2006 sebesar Rp. 210.440.000,-.
Transaksi-transaksi yang tercatat di rekening koran7 tetapi perusahan
belum mencatat dan juga untuk melakukan koreksi atas kesalahan yang
ditemukan dalam hasil pemeriksaan, PT. Antariksa akan melakukan
pencatatan dengan jurnal pada halaman berikut.
449
PT Sari Agro
Rekonsiliasi Bank
Bank BNI 31 Desember 2006
(dalam rupiah)
Saldo per rekening koran (akhir periode) 221.900.000
Ditambah:
Setoran dalam perjalan (1) 36.800.000
Kesalahan bank-cek yang tidak benar
dibebankan ke rekening koran (7) 1.750.000 38.550.000
260.450.000
Dikurangi:
Cek-cek yang beredar (2) 50.010.000
Saldo kas saat ini (saldo yang benar) 210.440.000
Saldo per buku 205.020.000
Ditambah:
Bunga yang ditagih (3) 6.000.000
Kesalahan mencatat cek no. 7733 (6) 1.800.000 7.800.000
212.820.000
Dikurangi:
Beban jasa bank (4) 180.000
Cek kosong yang dikembalikan (5) 2.200.000 2.380.000
Saldo kas yang benar 210.440.000
Tanggal Keterangan Ref. Debit Kredit
Kas Rp 6.000.000
Pendapatan Bunga Rp 6.000.000
(untuk mencatat Bunga obligasi
PT. Telkom yang ditagih
bank BNI)
Kas Rp 1.800.000
Utang Usaha Rp 1.800.000
(untuk mengoreksi kesalahan dalam
mencatat cek no. 7733)
Beban Jasa Bank Rp 180.000
Kas Rp 180.000
(untuk mencatat beban jasa bank
bulan Desember 2006)
Piutang Dagang Rp 2.200.000
Kas Rp 2.200.000
(untuk mencatat cek kosong
pelanggan yang dikembalikan)
450
Setelah ayat-ayat jurnal di atas diposting ke akun kas PT. Antariksa,
saldo kasnya menjadi Rp. 210.440.000,-. Untuk cek yang tertulis PT.
Antabarantah harus dikembalikan ke Bank BNI dengan memberitahu BNI
mengenai kesalahan ini. Disamping bentuk rekonsiliasi seperti dicontohkan
di atas, terdapat bentuk rekonsiliasi lain yang disebut rekonsiliasi empat
kolom. Mengapa disebut empat kolom? Karena dalam melakukan rekonsiliasi
ada empat hal pokok yang direkonsiliasi yaitu:
1. Rekonsiliasi dari saldo kas periode awal per rekening koran terhadap
saldo kas per buku perusahaan (kolom pertama).
2. Rekonsiliasi penerimaan kas periode berjalan per rekening koran
terhadap penerimaan yang dicatat dalam buku perusahaan (kolom
kedua).
3. Rekonsiliasi pengeluaran kas periode berjalan per rekening koran
terhadap pengeluaran yang dicatat dalam buku perusahaan (kolom
ketiga).
4. Rekonsiliasi saldo kas periode akhir per rekening koran terhadap saldo
kas per buku perusahaan (kolom keempat).
Untuk memberikan contoh bagaimana menyusun rekonsiliasi empat
kolom ini kita masih menggunakan kasus PT Sari Agro tetapi perlu informasi
tambahan, yaitu:
1. Saldo kas per 30 Nopember 2006, per rekening koran (saldo awal
Desember 2006) adalah Rp. 175.200.000,-.
2. Saldo kas per 30 Nopember 2006, per buku PT Sari Agro adalah sebesar
Rp. 180.200.000,-.
3. Total penerimaan kas (deposito/ setoran) per rekening koran bulan
Desember 2006 adalah Rp. 964.500.000,-. Penerimaan ini mencakup
setoran dalam perjalanan sebesar Rp. 42.000.000,- pada tanggal 30
Nopember 2006.
4. Total penerimaan kas per buku PT Sari Agro selama bulan Desember
adalah Rp. 953.300.000,-.
451
PT Sari Agro
Rekonsiliasi Bank
Bank BNI Bulan Desember 2006
(dalam rupiah)
Saldo Desember Saldo
30 Nopember Penerimaan Pengeluaran 31 Desember
Per rekening koran 175.200.000 964.500.000 917.800.000 221.900.000
Setoran dalam perjalanan:
30 Nopember 42.000.000 (4.200.000)
31 Desember 36.800.000 36.800.000
Cek cek beredar:
30 Nopember (37.000.000) (37.000.000)
31 Desember 50.010.000 (50.010.000)
Kesalahan bank-cek yang dibebankan
tidak benar oleh bank (1.750.000) 1.750.000
Jumlah yang benar 180.200.000 959.300.000 929.060.000 210.440.000
Per buku 180.200.000 953.300.000 928.480.000 205.020.000
Bunga yang ditagih bank 6.000.000 6.000.000
Kesalahan dalam pencatatan cek
no.7733 (1.800.000) 1.800.000
Beban jasa bank yang belum dicatat
pada 31 Desember 180.000 (180.000)
Cek kosong yang dikembalikan 2.200.000 (2.200.000)
Jumlah yang benar 180.200.000 959.300.000 929.060.000 210.440.000
5. Total pengeluaran kas per rekening koran untuk bulan Desember 2006
Rp. 917.800.000,-. Pengeluaran ini mencakup cek yang beredar sebesar
Rp. 37.000.000,- pada tanggal 30 Nopember 2006.
6. Total pengeluaran kas per buku selama bulan Desember 2006 adalah
Rp. 928.480.000,-.
Berdasarkan informasi tambahan tersebut dapat disusun rekonsiliasi
bank sebagai berikut:
452
Soal-Soal Latihan Bab 3
I. PERTANYAAN
1. Mengapa kas merupakan aktiva yang paling memerlukan perhatian dalam
perancangan sistem pengendalian internal yang efektif.
2. Hasil penjumlahan kas dari semua register kas pada penutupan jam kerja
ternyata kurang Rp. 110,- dari penjualan tunai yang diperlihatkan oleh struk
register kas. (a) pada akun mana kekurangan tersebut dicatat ? (b) Apakah
kekurangan kas didebit atau dikredit ke dalam akun ini?
3. Bila terdapat saldo kredit pada akun kekurangan dan kelebihan kas, pada
bagian mana dari laporan laba rugi hal tersebut akan dilaporkan?
4. Saldo kas mungkin akan berbeda dari saldo laporan bank. Sebutkan dua
faktor yang mungkin menyebabkan perbedaan tersebut.
5. Apakah pos-pos yang dilaporkan pada laporan bank sebagai kredit
merupakan (a) penambahan yang dilakukan oleh bank ke saldo deposan,
atau (b) pengurangan yang dilakukan oleh bank dari saldo deposan?
6. Ayat jurnal apa yang arus dibuat bila cek yang diterima dari pelanggan dan
disetorkan ke bank ternyata dikembalikan oleh bank karena dananya tidak
mencukupi?
7. Jelaskan mengapa sejumlah pembayaran kas dilakukan dengan
menggunakan uang yang berasal dari dana kas kecil!
8. Akun apa yang didebit pada saat (a) membentuk dana kas kecil dan (b)
mengisi kembali dana kas kecil.
9. Akun kas kecil mempunyai saldo kas sebesar Rp. 800,-. Pada akhir periode
akuntansi, terdapat Rp. 10,- pada dana kas kecil serta tanda terima kas kecil
sejumlah Rp. 690,-. Apakah dana tersebut harus diisi kembali pada hari
terakhir dari periode akuntansi tersebut? Bahaslah!
10. Dari hal-hal berikut, tentukan hal yang merupakan (a)
penambahan ke saldo kas menurut laporan bank, b)
pengurangan dari saldo kas menurut laporan bank, (c)
453
penambahan ke saldo kas menurut laporan pembukuan deposan, atau (d)
pengurangan dari saldo kas menurut laporan pembukuan deposan. (Tidak
ada transaksi yang dilaporkan dalam memorandum debit atau kredit bank
yang telah dicatat dalam pembukuan deposan).
a. Cek ditarik oleh deposan sebesar Rp. 300.000,- tetapi dibukukan sebesar
Rp. 3.000.000,-.
b. Cek pelanggan ditolak oleh bank dikembalikan ke deposan karena
dananya tidak mencukupi, Rp. 775.000,-.
c. Beban administrasi bank Rp. 35.000,-.
d. Cek sebesar Rp. 219.000,- dibebankan bank Rp. 291.000,-.
e. Cek yang beredar sebesar Rp. 6.137.680,-.
f. Setoran dalam perjalanan (in-transit) sebesar Rp. 7.500.000,-.
g. Promes yang ditagih oleh bank senilai Rp. 12.000.000,-.
11. Dari pos-pos rekonsiliasi yang disajikan pada no.10 di atas, pos-pos mana
yang perlu dijurnal dalam pembukuan deposan?
II. LATIHAN SOAL PILIHAN
Latihan 3.1
Bank telah melakukan kesalahan dengan membebankan akun PT Widyasoft
sebesar Rp. 450.500.000,- untuk cek yang ditarik dan dibukukan PT Widyasoft
sebesar Rp. 540.500.000,-. Dalam melakukan rekonsiliasi bank untuk
PT Widyasoft anda akan:
a. Menambahkan Rp. 90.000.000,- ke saldo kas menurut laporan bank.
b. Menambahkan sebesar Rp. 90.000.000,- ke saldo menurut pembukuan
PT Widyasoft.
c. Mengurangkan Rp. 90.000.000,- ke saldo kas menurut laporan bank.
d. Mengurangkan Rp. 90.000.000,- ke saldo kas menurut pembukuan
PT Widyasoft.
454
Latihan 3.2
A. Dalam menyiapkan rekonsiliasi bank, jumlah cek yang beredar akan:
a. Ditambahkan ke saldo kas menurut laporan bank.
b. Dikurangkan dari saldo kas menurut laporan bank.
c. Ditambahkan ke saldo kas menurut pembukuan deposan.
d. Dikurangkan dari saldo kas menurut pembukuan deposan.
B. Ayat jurnal berdasarkan rekonsiliasi bank diperlukan untuk:
a. Menambahkan ke saldo kas menurut pembukuan deposan.
b. Mengurangkan dari deposan menurut pembukuan deposan.
c. Baik A maupun B.
d. Bukan A maupun B.
C. Dana kas kecil:
a. Digunakan untuk membayar dalam jumlah yang relatif kecil.
b. Dibentuk dengan mengestimasikan jumlah kas yang diperlukan untuk
pengeluaran yang relatif kecil selama periode tertentu.
c. Diisi kembali bila jumlah uang dalam dana tersebut telah menurun ke
jumlah minimum.
d. Semua hal tersebut di atas.
D. Mana dari berikut ini yang merupakan ayat jurnal yang tepat untuk pengisian
kembali dana kas kecil.
a. Debit kas kecil; kredit kas.
b. Debit berbagai akun beban; kredit kas kecil.
c. Debit berbagai akun beban; kredit kas.
d. Debit kas; kredit kas kecil.
III. SOAL
Soal 3.1
PT Sari Pertiwi memutuskan untuk membuka dana kas kecil guna membantu
memastikan pengendalian intern atas pengeluaran kas yang kecil. Informasi
berikut tersedia untuk bulan April 2007.
a. Pada tanggal 1 April 2007, ditetapkan dana kas kecil yaitu sejumlah
Rp. 200.000.000,-.
455
b. Ikhtisar pengeluaran kas kecil yang dibuat oleh pengawas kas kecil per
10 April, adalah sebagai berikut:
Beban pengangkutan yang dibayarkan Rp 70.000.000,00
Perlengkapan yang dibeli dan digunakan Rp 15.000.000,00
Beban perangko Rp 33.000.000,00
Bon utang dari karyawan Rp 17.000.000,00
Beban rupa-rupa Rp 36.000.000,00
Dana kas kecil diisi kembali pada tanggal 10 April, saldo dana itu adalah
Rp. 29.000.000,-.
c. Saldo dana kas kecil dinaikkan dari Rp. 50.000.000,- menjadi sebesar
Rp. 250.000.000,- pada tanggal 20 April
Pertanyaan:
Siapkan ayat jurnal untuk mencatat transaksi yang berkaitan dengan kas
kecil untuk bulan April.
Soal 3.2
Dana kas kecil dari PT Airlangga perusahaan automotif perorangan sebagai
berikut:
a. Uang logam dan uang kertas Rp 9.200.000,00
b. Perangko Rp 3.000.000,00
c. Bon utang dari mekanik,
seorang karyawan untuk uang
muka kas Rp 40.000.000,00
d. Cek yang dibayarkan pada
PT Trisno Joyo seorang
karyawan, ditandai KOSONG Rp 34.000.000,00
e. Voucher-voucher untuk yang berikut:
i. Perangko Rp 20.000.000,00
ii. Dua karcis Rp 70.000.000,00
iii. Reparasi mesin tulis Rp 21.350.000,00
–––––––––––––––
Rp 111.350.000,00
–––––––––––––––
Rp 197.550.000,00
Perkiraan buku besar kas kecil mempunyai saldo Rp. 200.000.000,-.
456
Pertanyaan:
Siapkan ayat jurnal untuk mencatat pengisian kembali dana kas kecil.
Soal 3.3
PT Kartika mendepositokan semua penerimaan dan melakukan semua
penerimaan dan melakukan semua pembayarannya dengan cek.
Informasi berikut tersedia dari catatan kas.
Rekonsiliasi Bank 30 Juni
Saldo per Bank Rp 7.000.000,00
Ditambah: Deposito dalam perjalanan Rp 1.540.000,00
Dikurangi: Cek-cek yang beredar (Rp 2.000.000,00)
–––––––––––––––
Rp 6.540.000,00
Hasil-Hasil Bulan Juli
Per Bank Per Buku
Saldo 31 Juli Rp 8.550.000,00 Rp 9.250.000,00
Deposito Juli Rp 5.000.000,00 Rp 5.910.000,00
Cek-cek Juli Rp 4.100.000,00 Rp 3.200.000,00
Wesel yang Ditagih Rp 900.000,00 Rp –
Beban jasa Bank Juli Rp 15.000,00 Rp. –
Cek kosong Juli Dikembalikan Rp 235.000,00 Rp –
Pertanyaan:
a. Siapkan rekonsiliasi bank dari saldo per bank dan saldo per buku sampai
saldo kas yang benar.
b. Siapkan ayat jurnal umum untuk mengoreksi perkiraan kas.

KEWAJIBAN JANGKA PANJANG


577
A. Pengertian Kewajiban Jangka Panjang
Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban yang
pelunasannya atau jatuh temponya
lebih dari satu tahun atau satu periode
akuntansi mana yang lebih lama.
Contoh dari utang jangka panjang
adalah utang hipotik, utang obligasi,
wesel bayar jangka panjang, kewajiban pensiun, kewajiban
lease dll.
B. Jenis-Jenis Kewajiban/Utang Jangka Panjang
1. Utang Obligasi
Obligasi adalah surat tanda bukti utang yang dikeluarkan
oleh perusahaan kepada pemegangnya dengan imbalan
bunga sejumlah ter tentu. Dalam setiap obligasi tertera nilai
nominal obligasi serta tingkat bunga obligasi. Nilai nominal
atau nilai pari adalah nilai yang menunjukkan jumlah yang
harus dibayar perusahaan pada waktu obligasi jatuh tempo.
Sedangkan tingkat bunga obligasi menunjukkan sejumlah
prosentase tertentu yang harus dibayarkan secara periodik
kepada pemegang obligasi.
Per usahaan menerbitkan obligasi biasanya disebabkan oleh
kebutuhan dana dalam jumlah besar yang tidak bisa
dipenuhi dari akumulasi laba ditahan maupun dari utang
bank. Karena obligasi ini memiliki masa jatuh tempo yang
lebih dari satu tahun (biasanya antara 5 sampai dengan 20
tahun), maka apabila perusahaan menerbitkan obligasi akan
BAB 10
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
Kewajiban jangka panjang
adalah kewajiban yang
pelunasannya lebih dari
satu tahun
578
menimbulkan utang obligasi. Utang ini dikelompokkan ke
dalam utang jangka panjang.
2. Jenis-Jenis Obligasi
1) Obligasi dijamin dan obligasi tidak dijamin
Yang tergolong obligasi dijamin adalah: Obligasi hipotik
yaitu obligasi yang penerbitannya dijamin dengan suatu
jaminan tertentu misalnya real estate . Yang termasuk
obligasi dijamin ini adalah Obligasi trust yang
penerbitannya dijamin oleh saham atau obligasi
perusahaan lain.
Sedangkan obligasi tidak dijamin adalah obligasi yang
penerbitannya tidak dijamin dengan suatu jaminan.
Obligasi ini sangat beresiko sehingga apabila
perusahaan menerbitkan obligasi jenis ini akan
memberikan tingkat bunga yang tinggi, dalam rangka
untuk menarik minat calon investor.
2) Obligasi Berjangka, Obligasi Serial dan Obligasi Dapat
Ditebus
Obligasi berjangka adalah obligasi yang memiliki jatuh
tempo dalam satu tanggal. Obligasi serial adalah
obligasi yang memiliki jatuh tempo secara serial atau
berangsur. Obligasi dapat ditebus adalah ob ligasi yang
memberikan hak kepada penerbitnya untuk menebus
dan menarik obligasi tersebut sebelum jatuh temponya.
3) Obligasi Konvertibel
Obligasi konvertibel adalah suatu obligasi yang dapat
dikonversi dengan surat berharga lain pada suatu waktu
setelah penerbitannya. Biasanya obligasi jenis ini akan
bisa dikonversikan ke dalam saham.
4) Obligasi Terdaftar dan Atas Unjuk
Obligasi terdaftar adalah obligasi yang diterbitkan atas
nama pemilik. Obligasi atas unjuk adalah obligasi yang
579
tidak tercantum nama pemiliknya dan dapat ditransfer
dari satu pemilik ke pemilik lain cukup melalui
penyerahan saja.
3. Akuntansi untuk Kewajiban Obligasi
Terdapat beberapa istilah yang harus dipahami ket ika
membahas akuntansi untuk kewajiban obligasi. Istilah
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Nilai nominal obligasi yaitu nilai yang tercantum dalam
setiap lembar obligasi. Nilai ini menunjukkan jumlah yang
harus dilunasi perusahaan pada saat obligasi ini jatuh
tempo. Nilai ini biasanya juga disebut dengan nilai pari
(face value ).
b. Tanggal jatuh tempo, yaitu tanggal yang menunjukkan
waktu obligasi tersebut akan dilunasi oleh perusahaan.
c. Bunga obligasi adalah bunga per tahun yang akan dibayar
oleh perusahaan.
d. Tanggal bunga, yaitu tanggal yang menunjukkan kapan
perusahaan akan membayar bunga. Biasanya
perusahaan membayar bunga secara periodik dalam
waktu satu tahun. Bunga juga bisa dibayarkan secara
semesteran (yang berarti dibayar setiap 6 bulan sekali)
atau triwulan (setiap tiga bulan sekali).
Contoh 1: perusahaan menerbitkan obligasi Rp. 10.000.000,-
bunga 10%, jangka waktu 20 tahun ter tanggal 1 Januari 2007,
dengan pembayaran bunga semesteran setiap tanggal 1 Januari
dan 1 Juli.
Berdasar contoh tersebut, jurnal yang harus dibuat oleh
perusahaan adalah sebagai berikut:
1) Jurnal Penerbitan Obligasi
Jurnal ini adalah jurnal untuk mengakui timbulnya utang
obligasi. Pada tanggal ini perusahaan belum mengakui
580
munculnya beban bunga karena meskipun bunga dibayar
setiap tanggal 1 Januari, namun pada saat transaksi
penjualan obligasi belum ada waktu yang berjalan.
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal:
Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit
2007
Januari 1 Kas 10.000.000
Utang Obligasi 10.000.000
2) Jurnal Pembayaran Bunga
Pada setiap tanggal 1 Juli dan 1 Januari pada tahuntahun
berikutnya perusahaan harus membayar bunga
obligasi kepada pemegang obligasi. Jurnal untuk
mencatat pembayaran bunga adalah sebagai berikut:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal:
Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit
2007
Juli 1 Beban Bunga 500.000
Kas 500.000
3) Jurnal Pelunasan
Pada saat obligasi dilunasi pada tanggal 1 Januari 2027,
perusahaan akan membuat jurnal sebagai berikut:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal:
Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit
2007
Januari 1 Utang Obligasi 10.000.000
Kas 10.000.000
581
4) Pelaporan Utang Obligasi di Neraca
Utang obligasi akan dilaporkan dalam neraca pada
kelompok kewajiban jangka panjang. Penyajian di
neraca dapat dilihat pada ilustrasi berikut:
PT Airlangga
Neraca
per 31 Desember 2007
(dalam Rp. 000,-)
Aset Kewajiban
Aset Lancar: Kewajiban Lancar:
Aset Tetap: Kewajiban Jangka Panjang
Obligasi, 10% jatuh tempo
1 Januari 2027 1 0 0 0 0
Ekuitas:
Total Aset x x Total Kewajiban dan Ekuitas x x
4. Jenis-Jenis Penjualan Obligasi
Perusahaan menerbitkan obligasi dengan menetapkan nilai
nominaln ya untuk setiap lembar ob ligasinya. Ket ika
perusahaan menjual obligasi ini, maka nilai jual obligasi bisa
berbeda dengan nilai nominalnya. Harga jual bisa di atas
nilai nominal, bisa juga di bawah nilai nominal. Bila obligasi
dijual dengan harga jual di bawah nilai nominal, maka
obligasi dijual dengan diskonto. Apabila obligasi dijual
dengan harga jual di atas nilai nominal maka obligai dijual
dengan premi. Per lakuan akuntansi untuk masing-masing
jenis penjualan ini adalah sebagai berikut:
582
1) Penjualan obligasi dengan diskonto
Penjualan obligasi dengan diskonto adalah pejualan
obligasi oleh perusahaan dengan harga jual di bawah
nilai nominalnya. Biasanya perusahaan menjual obligasi
dengan harga di bawah nilai nominalnya disebabkan oleh
karena perusahaan memberikan tingkat bunga obligasi
di bawah tingkat bunga pasar, misalnya bunga bank.
Jika tingkat suku bunga obligasi lebih rendah daripada
suku bunga pasar, maka untuk menarik minat calon
investor, perusahaan akan mengambil langkah ini. Bila
terjadi penjualan obligasi dengan diskonto, maka akan
terjadi selisih antara nilai jual dengan nilai nominal
obligasi. Selisih ini disebut dengan diskonto utang
obligasi.
Sebagai contoh 2: kembali pada contoh 1 di atas,
apabila obligasi dijual dengan harga Rp. 9.500.000,-
yang berar ti terdapat diskonto obligasi sebesar Rp .
500.000,. Maka jurnal yang diperlukan untuk mencatat
transaksi tersebut adalah sebagai berikut:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal:
Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit
2007
Januari 1 Kas 9.500.000
Diskonto Utang Obligasi 500.000
Utang Obligasi 10.000.000
Akun diskonto utang obligasi bukan merupakan akun
aset atau kewajiban, tetapi hanya merupakan akun
untuk penilaian kewajiban. Akun ini disebut disebut
dengan contra account, sehingga keberadaannya akan
dilaporkan sebagai pengurang nilai nominal obligasi di
neraca sebagaimana dalam halaman berikut.
583
2) Penjualan obligasi dengan premi
Penjualan obligasi dengan premi adalah penjualan
obligasi oleh perusahaan dengan harga jual di atas nilai
nominalnya. Biasanya perusahaan menjual obligasi
dengan harga di atas nilai nominalnya disebabkan oleh
karena perusahaan memberikan tingkat bunga obligasi
di atas tingkat bunga pasar, misalnya bunga bank.
Selisih antara nilai nominal dan nilai jual yang terjadi
sebagai akibat penjualan obligasi dengan premi disebut
dengan premi utang obligasi.
PT Airlangga
Neraca
per 31 Desember 2007
(dalam Rp. 000,-)
Aset Kewajiban
Aset Lancar: Kewajiban Lancar:
Aset Tetap: Kewajiban Jangka Panjang
Obligasi, 10% jatuh tempo
1 Januari 2027 1 0 0 0 0
Diskonto Utang Obligasi - 5 0 0
9 5 0 0
Ekuitas:
Total Aset x x Total Kewajiban dan Ekuitas x x
Sebagai contoh 3: dari contoh 1 di atas, apabila obligasi
dijual dengan harga Rp. 10.500.000,- yang berar t i
terdapat premi obligasi sebesar Rp. 500.000,-. Maka
jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi tersebut
adalah sebagai berikut:
584
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal:
Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit
2007
Januari 1 Kas 10.500.000
Premi Obligasi 500.000
Utang Obligasi 10.000.000
Akun premi utang obligasi bukan merupakan akun aset
atau kewajiban, tetapi hanya merupakan akun untuk
penilaian kewajiban. Akun ini disebut disebut dengan
adjunct account dan dilaporkan sebagai penambah nilai
pari/nilai nominal/nilai jatuh tempo obligasi. Pelaporan
premi utang obligasi adalah sebagai berikut:
PT Airlangga
Neraca
per 31 Desember 2007
(dalam Rp. 000,-)
Aset Kewajiban
Aset Lancar: Kewajiban Lancar:
Aset Tetap: Kewajiban Jangka Panjang
Obligasi, 10% jatuh tempo
1 Januari 2027 1 0 0 0 0
Premi Utang Obligasi + 5 0 0
1 0 5 0 0
Ekuitas:
Total Aset x x Total Kewajiban dan Ekuitas x x
585
3) Penjualan obligasi diantara tanggal bunga
Dalam kasus obligasi diterbitkan diantara tanggal bunga,
maka pembeli obligasi akan membayar lebih dulu bunga
(interest accrued) yang akan diterimanya pada tanggal
pembayaran bunga periode berikutnya. Bunga yang
harus dibayar adalah bunga dari pembayaran terakhir
sampai dengan tanggal pembayaran bunga berikutnya.
Contoh 4: Obligasi 10 tahun nilai pari Rp. 8.000.000,-
ter tanggal 1 Januar i 2007, bunga ob ligasi 10 tahun
dibayar tiap semester (tanggal 1 Januari dan 1 Juli)
diterbitkan tanggal 1 Maret 2007, pada nilai pari
ditambah dengan bunga yang di accrual kan.
Maka jurnal untuk mencatat penerbitan obligasi ini
adalah:
(dalam rupiah) Jurnal umum Hal:
Tanggal Keterangan Reff Debit Kredit
2007
Maret 1 Kas 8.133.333
Utang bunga 133.333
Utang Obligasi 8.000.000
Pada tanggal 1 Juli 2007, pada saat perusahaan melakukan
pembayaran bunga tengah tahunan akan membuat jurnal sebagai
berikut:
(dalam rupiah) Jurnal umum Hal:
Tanggal Keterangan Reff Debit Kredit
2007
Juli 1 Utang Bunga 133.333
Beban bunga 266.667
Utang Obligasi 400.000
586
5. Perlakuan Akuntansi untuk Premi dan Diskonto
Premi atau diskonto utang obligasi har us diamortisasi
selama umur obl i g a s i . Amortisasi premi atau diskonto
obligasi ini diperlakukan sebagai beban bunga obligasi dan
dilaporkan dalam laporan laba/rugi. Premi atau diskonto
utang obligasi yang belum diamortisasi akan dilaporkan di
neraca sebagai penambah atau pengurang nilai
pari/nominal/nilai jatuh tempo obligasi.
Amortisasi premi atau diskonto utang obligasi dihitung
dengan menggunakan metode bunga efektif atau dengan
menggunakan metode garis lurus. Berikut ini diberikan
ilustrasi untuk masing-masing metode.
a Metode Bunga Efektif
Tingkat bunga efektif adalah bunga yang sebenarnya
diterima oleh pemegang obligasi. Biasanya bunga efektif
disebut juga dengan market rate atau effective yield ,
sementara bunga obligasi sendiri disebut dengan stated
rate.
Amortisasi premi atau diskonto utang obligasi dihitung
dengan formula sebagai berikut:
Contoh 5: PT Kartika menerbitkan obligasi Rp.
100.000.000,-, 8% tertanggal 1 Januar i 2007 dan jatuh
tempo 1 Januari 2012 dengan pembayaran bunga setiap
tanggal 1 Januari dan 1 Juli. Tingkat suku bunga efektif
sebesar 10%.
Dari contoh ini dapat disampaikan, karena tingkat suku
bunga obligasi lebih kecil daripada suku bunga efektif
Beban Bunga Obligasi
Nilai Tercatat Obligasi X
Tingkat Bunga Efektif
Pembayaran Bunga Obligasi
Nilai Nominal Obligasi X
Tingkat Bunga yang Ditetapkan
– =
Amortisasi
Obligasi
587
Berdasar pada ilustrasi tersebut, maka skedul amortisasi
diskonto tiap periode bisa dihitung sebagai berikut:
Skedul Amortisasi Premi
Metode Bunga Efektif-Pembayaran Bunga Semianual
5 Th, 8%, yield (bunga efektif) 6%
Tanggal Kas dibayar Beban Bunga Amortisasi Nilai Tercatat
01/01/2007 108.530.800
07/01/2007 4.000.000 3.255.924 -744.076 107.786.724
01/01/2008 4.000.000 3.233.602 -766.398 107.020.326
07/01/2008 4.000.000 3.210.610 -789.390 106.230.935
01/01/2009 4.000.000 3.186.928 -813.072 105.417.864
07/01/2009 4.000.000 3.162.536 -837.464 104.580.399
01/01/2010 4.000.000 3.137.412 -862.588 103.717.811
07/01/2010 4.000.000 3.111.534 -888.466 102.829.346
01/01/2011 4.000.000 3.084.880 -915.120 101.914.226
07/01/2011 4.000.000 3.057.427 -942.573 100.971.653
01/01/2012 4.000.000 3.029.150 -970.850 100.000.803
40.000.000 31.470.003 -8.529.997 1.040.470.087
Catatan: 4.000.000 = 100jt × 0.08 × 6/12 744.076 = 3.255.924 – 4.000.000
3.255.924 = 108.530.000 × 0.06 × 6/12 107.786.724 = 108.530.800 – 744.076
Jurnal yang diperlukan untuk mencatat penerbitan
obligasi dengan premi adalah sebagai berikut:
Nilai Nominal Obligasi (dalam Rp.) 100.000.000
Present Value 100.000.000., 5 th 10% semianual
(tabel A-3);
FV (PVF 10,5%); (Rp. 100.000.000,- × 0.61391) 61.391.000
Present Value 4.000.000 bunga semianual untuk 5 th
10% perth. (tabel A-4)
R(PVF-OA 10,5%); (Rp. 4.000.000,- × 7.72173) 30.887.000 92.278.000
Proceeds dari penjualan obligasi (dalam Rp) 7.722.000
Diskonto Utang Obligasi (dalam Rp)
maka, obligasi ini dijual dengan diskonto. Besarnya diskonto
dihitung sebagai berikut:
588
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal:
Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit
2007
Januari 1 Kas 108.530.800
Premi Utang Obligasi 8.530.800
Utang Obligasi 100.000.000
Jurnal untuk mencatat pembayaran bunga dan amortisasi
premi 1 Juli 2007:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal:
Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit
2007
Juli 1 Beban Bunga Obligasi 744.076
Premi Utang Obligasi 3.255.924
Kas 4.000.000
b. Wesel Bayar Jangka Panjang
Wesel bayar jangka panjang merupakan utang wesel yang
jangka waktu pelunasannya lebih dari satu periode
akuntansi. Perusahaan biasan ya menerbitkan wesel
bayar jangka panjang apabila membutuhkan dana dalam
jumlah besar atau melakukan pembelian yang tidak bisa
dibayar langsung tetapi melalui pembayaran angsuran.
Berikut ini adalah contoh timbulnya wesel bayar jangka
panjang.
Contoh 6: pada tanggal 31 Desember 2006 perusahaan
menandatangani wesel bayar jangka panjang yang akan
dilunasi selama 10 kali angsuran sebesar Rp. 10.000.000,-
dengan bunga 10% per tahun.
589
Jurnal yang dibuat oleh perusahaan untuk mencatat
transaksi ini adalah sebagai berikut:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal:
Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit
2006
Desember 31 Kas 10.000.000
Wesel Bayar 10.000.000
Jika wesel jangka panjang tersebut akan dibayar secara
angsuran, maka cara mudah untuk menghitung besarnya
angsuran berikut bunganya adalah dengan menghitung
angsuran pokok ditambah beban bunga per tahun.
Dalam kasus ini, perusahaan melakukan pembayaran
angsuran wesel bayar tidak sama besar untuk setiap
periode. Jumlah angsuran untuk setiap periode adalah
jumlah angsuran pokok wesel bayar ditambah bunga
yang harus dibayar pada periode tersebut. Bunga dihitung atas
dasar saldo pokok wesel untuk setiap periode.
Sebagai contoh 7: kembali pada kasus contoh 6 di atas,
bila perusahaan membayar secara angsuran dengan
angsuran tidak sama besar. Jumlah angsuran 31 Desember 2007
dihitung sebagai berikut:
Angsuran pokok .......................... Rp. 1.000.000*
Beban bunga ............................... _1._0_0_0_.0_0_0_**
2.000.000
Keterangan perhitungan:
* = Rp. 10.000.000 : 10
** = 10% × 10.000.000
Maka jurnal yang harus dibuat oleh perusahaan untuk
mencatat angsuran wesel ditambah beban bunga adalah
sebagai berikut:
590
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal:
Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit
2007
Desember 31 Mesel Bayar 1.000.000
Beban bunga 1.000.000
Kas 2.000.000
Untuk pembayaran angsuran periode kedua tanggal 31
Desember 2008 dilakukan dengan perhitungan sebagai berikut:
Angsuran pokok .......................... Rp. 1.000.000*
Beban bunga ............................... 900.000**
________
1.900.000
Keterangan perhitungan:
* = Rp. 10.000.000 : 10
** = 10% × 9.000.000
Jurnal yang diperlukan untuk mencatat pembayaran
angsuran kedua ini adalah sebagai berikut:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal:
Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit
2008
Desember 31 Mesel Bayar 1.000.000
Beban bunga 900.000
Kas 1.900.000
Setelah mengetahui proses pencatatan utang wesel
jangka panjang, pertanyaan berikutnya adalah bagaimanakah
penyajian utang wesel jangka panjang ini dalam neraca?
Utang wesel jangka panjang dilaporkan dalam neraca
pada kelompok kewajiban/utang jangka panjang. Akun ini
biasanya dilaporkan sebelum akun utang obligasi.
591
Berikut ini adalah ilustrasi pelaporan utang wesel jangka
panjang di neraca bila digabung dengan pelaporan utang
obligasi.
PT Kartika
Neraca
per 31 Desember 2007
(dalam Rp. 000,-)
Aset Kewajiban
Aset Lancar: Kewajiban Lancar:
Aset Tetap: Kewajiban Jangka Panjang
Wesel bayar, 10% jangka
waktu 10 th 1 0 0 0 0
Obligasi, 10% jatuh tempo
1 Januari 2027 1 0 0 0 0
Premi Utang Obligasi + 5 0 0
1 0 5 0 0
Ekuitas:
Total Aset x x Total Kewajiban dan Ekuitas x x
592
Soal-soal Latihan Bab 10
I. PERTANYAAN
1. Apakah yang dimaksud kewajiban jangka panjang?
2. Karakteristik apa yang membedakan antara kewajiban lancar dan kewajiban
jangka panjang?
3. Berikan contoh akun yang tergolong kewajiban jangka panjang! Dan
jelaskan pengertian dari akun-akun tersebut di atas!
4. Bagaimana penilaian dari kewajiban jangka panjang tersebut?
5. Bagaimana penyajian di laporan keuangan kewajiban jangka panjang
tersebut?
II. LATIHAN SOAL PILIHAN
Pilih satu dari jawaban yang tersedia yang anda anggap paling tepat.
Latihan 10.1
Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban yang jangka waktu pelunasannya:
A. Tiga bulan.
B. Kurang dari satu tahun.
C. Lebih dari satu tahun.
D. Satu bulan.
Latihan 10.2
Kewajiban jangka panjang dinilai berdasarkan:
A. Harga perolehan.
B. Nilai sekarang dari nilai jatuh tempo dan bunga.
C. Harga pasar wajar.
D. Harga standar.
593
Latihan 10.3
Jika obligasi diterbitkan dengan kurs di bawah 100%, maka akan ada
A. Agio obligasi.
B. Agio saham.
C. Disagio obligasi
D. Disagio saham
Latihan 10.5
Berikut ini yang tergolong akun-akun kewajiban jangka panjang:
A. Utang obligasi
B. Wesel bayar jangka waktu pelunasan lebih dari satu tahun.
C. Utang hipotik.
D. Semua benar.
III. SOAL
Soal 10-1
Pada tanggal 1 Januari 2008 PT Unilever menerbitkan 100.000 lembar obligasi,
10%, jangka waktu 5 tahun dengan nominal @ Rp. 2.000,00. Bunga dibayar
setiap tahun pada tanggal 31 Desember. Pada saat itu bunga pasar 12%.
Pertanyaan:
a. Tentukan total harga jual untuk 100.000 lembar obligasi tersebut!
b. Buatlah jurnal untuk mencatat penerbitan obligasi tersebut!
c. Buatlah skedul amortisasi untuk agio/disagio obligasi tersebut!
d. Buatlah jurnal untuk mencatat pembayaran bunga selama umur obligasi.
e. Buatlah jurnal untuk pelunasan obligasi.
594
Soal 10-2
Pada tanggal 1 Juli 2007 PT Indofood Sukses Makmur menerbitkan 50.000
lembar obligasi, 12%, 5 tahun dengan nominal @ Rp. 3.000,00. Bunga dibayar
setengah tahunan setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli. Pada saat itu bunga pasar
10%.
Pertanyaan:
a. Tentukan total harga jual untuk 100.000 lembar obligasi tersebut!
b. Buatlah jurnal untuk mencatat penerbitan obligasi tersebut!
c. Buatlah skedul amortisasi untuk agio/disagio obligasi tersebut!
d. Buatlah jurnal untuk mencatat pembayaran bunga selama umur obligasi.
e. Buatlah jurnal untuk pelunasan obligasi.